Di Balik Larangan Medsos Inggris, Bagaimana Gurita ‘TikTokisasi’ Meretas Otak dan Membajak Dopamin Kita
Uptodai.com - Kebijakan Pemerintah Inggris yang secara resmi melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun membuka tabir perang besar melawan manipulasi psikologis di era digital. Langkah hukum yang tergolong radikal ini diambil sebagai respons langsung atas kecemasan publik yang kian memuncak terhadap masa depan generasi muda.
Pemerintah setempat sengaja merancang regulasi ketat ini untuk memutus rantai dampak negatif yang ditimbulkan oleh ekosistem digital saat ini. Fokus utamanya tidak lain adalah untuk menyelamatkan rentang perhatian (attention span) anak-anak, yang berdasarkan berbagai laporan, terus merosot tajam akibat paparan stimulasi visual secara terus-menerus.
Secara ilmiah, akar dari merosotnya kemampuan fokus ini terletak pada daya pikat format video pendek yang kini mendominasi ruang siber. Format visual cepat saji tersebut memiliki kemampuan unik untuk memicu lonjakan dopamin, sejenis hormon di dalam otak manusia yang bertanggung jawab atas terciptanya rasa senang dan penghargaan instan.
Mekanisme kecanduan ini bekerja melalui sistem navigasi yang sangat sederhana namun mematikan, di mana tayangan berikutnya selalu siap tersaji hanya dengan satu usapan layar. Ditambah dengan fitur putar otomatis, ketidakpastian mengenai konten apa yang akan muncul selanjutnya justru menjadi daya tarik psikologis utama yang membuat pengguna sulit melepaskan gawai.
Sifat adiktif yang tertanam sejak awal perancangan konten inilah yang menjadi alasan logis mengapa jutaan anak terus terikat pada layar selama berjam-jam. Sayangnya, upaya penyelidikan psikologis melalui hukum pembatasan usia di Inggris ini diprediksi akan menghadapi jalan terjal yang sangat berliku di lapangan.
Para analis memperingatkan adanya ancaman nyata dari fenomena global yang dikenal sebagai TikTokification atau “TikTokisasi”. Istilah ini merujuk pada adopsi massal format video vertikal berdurasi singkat yang awalnya dipopulerkan oleh platform asal Tiongkok oleh puluhan platform digital tiruan di berbagai sudut internet.
Ekspansi format candu ini ke seluruh penjuru internet berpotensi besar merusak sekaligus menggagalkan dampak positif yang awalnya diharapkan dari larangan media sosial tersebut. Hal ini terjadi karena anak-anak masih bisa menemukan konten sejenis di luar ekosistem media sosial yang diblokir oleh pemerintah.
Ironisnya, degradasi kualitas pengalaman berselancar di internet akibat pembajakan hormon dopamin ini tidak lagi memandang batasan usia. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa internet kini telah berubah menjadi tempat yang lebih buruk bagi semua orang, di mana perhatian seluruh kelompok umur terus dieksploitasi tanpa memberikan nilai tambah yang berarti.