Uptodai.com - Dunia kembali menyoroti praktik intervensi Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin setelah pernyataan kontroversial Presiden Donald Trump. Trump secara terbuka membenarkan operasi yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, merujuk pada pembaruan sebuah prinsip politik luar negeri abad ke-19.

Operasi penangkapan Maduro pada Sabtu (3/1/2026) tersebut dikaitkan langsung oleh Trump dengan apa yang ia sebut sebagai kelanjutan dari Doktrin Monroe intervensi AS. Prinsip lama ini telah lama menjadi dasar dominasi Washington di Belahan Barat selama hampir dua abad, memicu perdebatan sengit mengenai kedaulatan negara-negara di Amerika Tengah dan Selatan.

Trump bahkan melangkah lebih jauh dengan menyematkan namanya pada prinsip tersebut, menyebutnya sebagai “Dokumen Donroe.” Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menjalankan negara Venezuela hingga terjadi transisi kekuasaan yang aman, layak, dan bijaksana. Pernyataan ini secara eksplisit mengklaim dominasi penuh AS atas kawasan tersebut, menutup pintu bagi keraguan apa pun.

Asal-Usul dan Tujuan Awal Doktrin Monroe

Doktrin Monroe pertama kali diumumkan pada 2 Desember 1823 oleh Presiden AS kelima, James Monroe. Gagasan ini disampaikan dalam pidato tahunan ketujuhnya di hadapan Kongres AS, meskipun nama doktrin tersebut baru melekat beberapa dekade kemudian.

Pada dasarnya, prinsip ini menyerukan pembagian dunia menjadi wilayah-wilayah pengaruh yang berbeda, dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan pengawas utama di Belahan Barat. Monroe memperingatkan keras negara-negara Eropa, terutama kekuatan monarki pasca-Napoleon, agar tidak mencampuri urusan di kawasan Amerika.

Monroe menegaskan bahwa setiap upaya intervensi atau kolonisasi baru oleh Eropa di benua Amerika akan dianggap sebagai tindakan permusuhan terhadap Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, Washington berjanji untuk tidak mencampuri koloni Eropa yang sudah ada dan urusan dalam negeri negara-negara di Benua Biru.

Transformasi Doktrin Monroe Intervensi AS: Dari Pertahanan ke Agresi

Meskipun tujuan awal Doktrin Monroe adalah melindungi kedaulatan negara-negara baru di Amerika Latin dari potensi re-kolonisasi Eropa, maknanya bergeser drastis seiring berjalannya waktu. Doktrin ini berubah dari perisai pertahanan menjadi alat pembenaran intervensi militer dan politik Washington.

Titik balik paling signifikan terjadi pada tahun 1904, ketika Presiden Theodore Roosevelt mengeluarkan apa yang dikenal sebagai Roosevelt Corollary. Corollary ini secara efektif memiliterisasi Doktrin Monroe, menyatakan bahwa AS berhak bertindak sebagai “polisi internasional” di Belahan Barat.

Roosevelt berargumen bahwa jika negara-negara Amerika Latin gagal menjaga stabilitas politik atau ekonomi mereka, AS memiliki kewajiban untuk campur tangan guna mencegah intervensi Eropa. Perubahan ini membuka jalan bagi serangkaian intervensi militer AS di Kuba, Panama, Republik Dominika, dan Nikaragua sepanjang awal abad ke-20, yang semuanya dibenarkan atas nama menjaga ketertiban regional.

Doktrin Monroe di Era Modern dan Kasus Venezuela

Penggunaan kembali Doktrin Monroe dalam konteks modern, seperti yang dilakukan oleh Donald Trump terhadap Venezuela, menunjukkan bahwa prinsip lama ini masih relevan dalam kebijakan luar negeri AS. Meskipun banyak analis berpendapat bahwa doktrin tersebut sudah usang, Washington terus menggunakannya sebagai landasan filosofis untuk menentang rezim yang dianggap mengancam kepentingan AS.

Dalam kasus Venezuela, Doktrin Monroe intervensi AS digunakan untuk membenarkan upaya penggulingan Nicolás Maduro, yang dituduh AS sebagai diktator yang tidak sah. Klaim Trump bahwa AS akan “menjalankan negara itu” memperkuat persepsi bahwa Washington tidak hanya ingin mengganti pemimpin, tetapi juga mengendalikan proses transisi politik secara langsung.

Penerapan kebijakan ini menunjukkan adanya kekhawatiran AS terhadap pengaruh kekuatan eksternal, seperti Tiongkok dan Rusia, yang semakin besar di Amerika Latin. Dengan menghidupkan kembali doktrin ini, AS berusaha menegaskan kembali hegemoni regionalnya dan memastikan bahwa Belahan Barat tetap berada di bawah lingkup pengaruh eksklusifnya.

Kontroversi seputar Doktrin Monroe, baik yang asli maupun yang telah dimodifikasi menjadi “Dokumen Donroe,” terus memicu ketegangan diplomatik. Negara-negara Amerika Latin sering memandang kebijakan ini sebagai simbol imperialisme dan penghinaan terhadap kedaulatan mereka, sementara AS melihatnya sebagai pilar esensial bagi keamanan dan stabilitas regional.