Uptodai.com - Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2005-2010, Burhanuddin, melontarkan pandangan kritis mengenai kondisi perekonomian nasional saat ini. Ia menyebut Mantan Bos BI Ekonomi Gejala Inersia karena sulit keluar dari pola pertumbuhan yang stagnan di kisaran 5%.

Meskipun Indonesia patut diapresiasi karena mampu menjaga stabilitas pertumbuhan di angka tersebut selama lebih dari satu dekade, capaian ini justru menjadi cerminan bahwa kemampuan ekonomi nasional belum mampu melakukan akselerasi ke level yang lebih tinggi. Burhanuddin menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal mempertahankan pertumbuhan, melainkan bagaimana mendorong lompatan produktivitas yang signifikan.

Mengurai Makna ‘Gejala Inersia’ dalam Kebijakan

Pernyataan tersebut disampaikan Burhanuddin dalam forum bergengsi Prasasti Economic Forum 2026 yang diselenggarakan Kamis (29/1/2026). Menurutnya, fenomena inersia ini menunjukkan kecenderungan kuat bagi ekonomi untuk bertahan pada pola lama, yang meskipun memberikan rasa aman dan stabilitas, namun menghambat potensi pertumbuhan jangka panjang.

Stabilitas yang terjaga baik sering kali membuat para pembuat kebijakan merasa nyaman, sehingga menunda reformasi struktural yang berisiko. Padahal, stagnasi di level 5% ini mengindikasikan adanya keterbatasan struktural yang perlu diatasi melalui langkah-langkah berani dan transformatif.

Untuk memutus rantai inersia tersebut, dibutuhkan keberanian dalam pengambilan kebijakan, terutama yang menyentuh sektor-sektor kunci. Selain itu, penguatan kelembagaan serta peningkatan kualitas koordinasi lintas sektor juga menjadi prasyarat mutlak yang harus dipenuhi pemerintah.

Burhanuddin menambahkan bahwa kepercayaan publik terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan harus menjadi fondasi utama. Fondasi yang kuat ini sangat penting dalam mendorong investasi baru, memicu inovasi, dan menumbuhkan keberanian bagi pelaku usaha untuk mengambil risiko produktif. Tanpa adanya dorongan ini, ekonomi akan terus bergerak dalam lingkaran yang sama tanpa mencapai potensi maksimalnya.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 dan Ruang Fiskal

Sejalan dengan pandangan mengenai tantangan akselerasi, Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, memaparkan proyeksi lembaganya untuk tahun mendatang. Prasasti memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2026 akan bergerak stabil, berada di kisaran 5,0 hingga 5,3%.

Proyeksi pertumbuhan ini ditopang oleh beberapa faktor fundamental. Salah satu pendorong utamanya adalah perbaikan pada konsumsi domestik, seiring dengan stabilisasi kepercayaan konsumen. Meskipun demikian, Gundy mengingatkan bahwa ruang akselerasi dari sisi konsumsi masih terlihat terbatas, sehingga mesin pertumbuhan lain harus dioptimalkan.

Faktor kunci kedua yang sangat menentukan adalah kualitas dan efektivitas eksekusi fiskal pemerintah, terutama di tengah ruang penerimaan negara yang saat ini relatif sempit. Pemerintah harus memastikan setiap belanja negara, khususnya belanja modal, memberikan dampak multiplikasi yang optimal bagi perekonomian.

Selain itu, dinamika nilai tukar rupiah juga perlu dicermati secara hati-hati oleh otoritas moneter. Pelemahan mata uang Garuda, di satu sisi, memang mampu memberikan dorongan positif terhadap kinerja ekspor nasional, menjadikannya lebih kompetitif di pasar global.

Namun, di sisi lain, depresiasi rupiah berpotensi besar menahan laju investasi, terutama pada sektor-sektor yang sangat bergantung pada impor barang modal dan bahan baku. Oleh karena itu, keseimbangan antara menjaga daya saing ekspor dan stabilitas harga domestik menjadi pekerjaan rumah yang kompleks bagi Bank Indonesia.

Dalam konteks jangka menengah dan panjang, Gundy menekankan bahwa penguatan investasi harus ditempatkan sebagai mesin pertumbuhan utama. Hal ini wajib diiringi dengan percepatan transformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing ekonomi nasional secara keseluruhan, demi melepaskan Indonesia dari jebakan ‘gejala inersia’ pertumbuhan.