Uptodai.com - Getaran yang cukup terasa dilaporkan terjadi di wilayah timur Indonesia setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya Gempa M5 Laut Sulawesi pada Rabu pagi. Meskipun magnitudo awalnya sempat berbeda, BMKG segera merilis pembaruan data yang memastikan kekuatan gempa berada di angka M5,0.

Guncangan ini berpusat di kedalaman yang sangat dalam, menjadikannya jenis gempa yang unik dan menarik perhatian para seismolog. BMKG memastikan bahwa masyarakat tidak perlu panik, karena gempa ini tidak memicu ancaman gelombang pasang.

Analisis Mendalam Gempa M5 Laut Sulawesi

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa episenter gempa tersebut terdeteksi pada koordinat 3,11° LU dan 122,89° BT. Lokasi ini secara spesifik berada di laut, sekitar 248 kilometer arah barat laut Kota Boroko, Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara.

Kedalaman hiposenter yang tercatat mencapai 487 kilometer, mengindikasikan bahwa energi dilepaskan jauh di bawah permukaan bumi. Dengan melihat lokasi dan kedalamannya yang ekstrem, Daryono memastikan bahwa gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa bumi dalam.

Mekanisme ‘Slab Pull’ Picu Guncangan Dalam

Aktivitas seismik ini merupakan hasil dari mekanisme *slab pull* di dalam Lempeng Sangihe. *Slab pull* sendiri merujuk pada gaya yang dihasilkan ketika lempeng tektonik yang lebih tua dan padat tenggelam ke mantel bumi, memicu deformasi batuan di kedalaman yang luar biasa.

Fenomena ini menjelaskan mengapa gempa dengan magnitudo yang cukup besar tidak menimbulkan kerusakan masif di permukaan. Energi yang dilepaskan telah teredam oleh lapisan batuan yang sangat tebal sebelum mencapai permukaan bumi.

Analisis mekanisme sumber lebih lanjut menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki mekanisme mendatar turun, atau dikenal sebagai *oblique normal*. Karakteristik ini lazim terjadi pada zona subduksi di mana lempeng bergerak saling menekan dan menenggelamkan satu sama lain.

Dampak Guncangan: Benda Ringan Bergoyang

Berdasarkan estimasi peta guncangan (*shakemap*), dampak getaran dirasakan paling kuat di daerah Ponelo Kepulauan, Gorontalo Utara. Intensitas guncangan tercatat pada skala II *Modified Mercalli Intensity* (MMI).

Pada skala II MMI, getaran hanya dirasakan oleh beberapa orang yang berada di dalam ruangan. Ciri khas dari intensitas ini adalah benda-benda ringan yang digantung, seperti lampu atau dekorasi, mulai terlihat bergoyang perlahan.

Meskipun terasa, hingga saat ini belum ada satu pun laporan resmi mengenai kerusakan signifikan yang ditimbulkan oleh aktivitas gempa tersebut. Paling penting, hasil pemodelan yang dilakukan oleh BMKG secara tegas menyatakan bahwa gempa bumi dalam ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI.

Monitoring aktivitas seismik terus dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi kejadian ikutan. Hingga laporan ini diterbitkan, BMKG belum mendeteksi adanya aktivitas gempa bumi susulan (*aftershock*) yang signifikan.

Imbauan Resmi BMKG Pasca Guncangan

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Daryono menekankan pentingnya menghindari bangunan yang berpotensi retak atau rusak akibat getaran, meskipun guncangan yang terjadi tergolong ringan.

Warga harus memeriksa dan memastikan bahwa struktur bangunan tempat tinggal mereka cukup tahan gempa dan tidak mengalami kerusakan yang membahayakan kestabilan sebelum kembali masuk ke dalam rumah. Keselamatan adalah prioritas utama pasca kejadian alam.

Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan terverifikasi, masyarakat wajib memastikan bahwa sumber informasi resmi hanya berasal dari BMKG. Informasi tersebut disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi keandalannya.