Uptodai.com - Realisasi impor sapi jantan hidup ke Indonesia melonjak signifikan menjelang perayaan Hari Raya Iduladha 2026. Langkah strategis ini diambil guna mengamankan pasokan hewan kurban di dalam negeri yang biasanya mengalami lonjakan permintaan cukup tajam.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat seluruh pasokan hewan ternak tersebut didatangkan dari satu negara mitra utama. Kebijakan ini diharapkan mampu meredam gejolak harga di pasar tradisional selama momentum hari besar keagamaan berlangsung.

Australia Jadi Pemasok Tunggal Impor Sapi Jantan Hidup

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa volume masuknya komoditas ini mencapai puluhan ribu ton pada April 2026. Nilai transaksi untuk mendatangkan puluhan ribu ekor sapi tersebut menyentuh angka yang sangat fantastis.

“Impor sapi jantan hidup April 2026 ada sebanyak 20,9 ribu ton atau senilai US$ 76,5 juta,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta. Ia juga menegaskan bahwa seluruh pengiriman tersebut berasal dari Australia tanpa ada negara alternatif lain.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada komoditas hewan kurban lainnya seperti kambing. Berdasarkan data perlintasan barang yang diolah BPS, tidak ada satu pun aktivitas impor kambing hidup yang tercatat masuk ke tanah air sepanjang periode April 2026.

Dampak Pasokan Sapi Impor Terhadap Tekanan Inflasi

Kehadiran pasokan sapi impor ini menjadi sangat krusial mengingat daging sapi kerap menjadi pemicu utama inflasi menjelang hari besar keagamaan. Tingginya permintaan masyarakat sering kali membuat stok lokal kewalahan sehingga memicu lonjakan harga yang tidak terkendali.

BPS mencatat kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,43 persen secara tahunan pada Mei 2026. Dalam kelompok tersebut, komoditas daging sapi memberikan andil inflasi yang cukup nyata, yakni sebesar 0,04 persen.

Kenaikan harga ini juga berimbas langsung pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) yang secara keseluruhan mengalami inflasi sebesar 6,24 persen secara tahunan. Pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan daya beli masyarakat.

Upaya Menjaga Stabilitas Harga Daging Sapi di Pasar

Selain fluktuasi harga daging sapi, beberapa komoditas pangan lain juga ikut menyumbang tekanan inflasi yang cukup tinggi. Komoditas sensitif seperti beras, daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah masih menjadi motor penggerak utama dalam rantai pasokan pangan nasional.

Melalui masuknya puluhan ribu ton sapi bakalan ini, pemerintah berharap dapat menekan potensi inflasi harga pangan yang lebih tinggi saat Iduladha tiba. Distribusi yang merata ke berbagai rumah potong hewan di daerah menjadi kunci utama keberhasilan program stabilisasi pangan ini.