Uptodai.com - Kondisi Pasar Cipulir sepi pengunjung kini menjadi pemandangan sehari-hari yang memprihatinkan di pusat grosir pakaian legendaris Jakarta Selatan ini. Lorong-lorong pasar yang dahulu padat merayap dan bising oleh tawar-menawar kini berubah senyap. Keadaan sulit ini mulai dirasakan para pedagang secara perlahan sejak badai pandemi Covid-19 mereda.

Banyak kios kini memilih tutup lebih cepat atau bahkan gulung tikar karena tidak sanggup membayar biaya sewa. Kendati demikian, sebagian pedagang masih memilih bertahan di tengah gempuran tren belanja online yang kian masif. Mereka terpaksa berdamai dengan keadaan yang tidak menentu demi menyambung hidup keluarga.

Penyebab Kondisi Pasar Cipulir Sepi dan Sepi Pembeli

Faktor sepinya pembeli tidak hanya disebabkan oleh beralihnya konsumen ke platform digital, tetapi juga kendala infrastruktur fisik. Saat musim hujan tiba, kawasan sekitar pasar kerap tergenang banjir yang membuat akses jalan lumpuh. Hal ini semakin menurunkan minat masyarakat untuk datang langsung berbelanja ke lokasi.

Susi, salah satu pedagang celana pendek pria, membagikan kisah pilunya menghadapi situasi sulit ini. Perempuan paruh baya tersebut mengaku tidak memiliki pilihan lain selain tetap membuka lapaknya setiap hari. Baginya, menyerah bukanlah pilihan di tengah himpitan ekonomi yang kian menjepit.

Nasib Pedagang Pasar Cipulir yang Kian Terpuruk

Susi mengungkapkan bahwa hasil penjualannya kini menurun sangat drastis dibandingkan beberapa tahun lalu. Seringkali, ia harus pulang dengan tangan hampa tanpa membawa sepeser pun uang penglaris. Bahkan, dalam sepekan terakhir, barang dagangannya hampir tidak disentuh oleh calon pembeli.

Ia merinci perolehan omzetnya yang sangat memprihatinkan sejak awal pekan ini. Pada hari Senin, tidak ada satu pun celana pendek dagangannya yang berhasil terjual ke konsumen. Kemudian pada hari Selasa ia hanya mampu menjual satu potong celana, disusul hari Rabu yang kembali nihil penjualan.

Meskipun pada hari Kamis ada sedikit angin segar dengan terjualnya dua potong celana, jumlah tersebut tentu jauh dari kata cukup. Pendapatan sekecil itu bahkan tidak mampu menutup modal harian dan biaya transportasi yang ia keluarkan. Namun, Susi tetap memelihara asa agar kondisi pasar legendaris ini bisa kembali bergeliat seperti sedia kala.