Uptodai.com - Ketegangan perbatasan Guinea dan Sierra Leone mendadak memuncak setelah otoritas militer Guinea secara resmi mengonfirmasi penangkapan belasan personel tentara dari negara tetangganya. Insiden ini memicu kekhawatiran baru akan stabilitas keamanan di kawasan Afrika Barat yang selama ini sudah dibayangi sengketa wilayah menahun.

Kementerian Pertahanan Nasional Guinea melaporkan bahwa setidaknya 16 tentara Sierra Leone kini berada dalam tahanan mereka sejak Rabu (25/2/2026). Penangkapan tersebut dilakukan setelah pasukan asing tersebut diduga melintasi garis perbatasan dan masuk ke wilayah kedaulatan Guinea tanpa izin resmi.

Kronologi Penangkapan Tentara di Wilayah Koudaya

Pihak Guinea menyatakan bahwa tindakan para tentara Sierra Leone merupakan pelanggaran serius terhadap integritas wilayah negara mereka. Berdasarkan laporan di lapangan, pasukan tersebut kedapatan mendirikan tenda dan membangun kamp sementara di area Koudaya, yang masuk dalam wilayah administratif Faranah.

Selain mendirikan kamp, para prajurit tersebut juga terlihat mengibarkan bendera nasional Sierra Leone di lokasi yang dipersengketakan. Langkah ini dianggap oleh militer Guinea sebagai upaya provokatif untuk mengklaim wilayah secara sepihak di tengah proses diplomasi yang masih berjalan.

Menanggapi situasi tersebut, militer Guinea segera menyita seluruh peralatan tempur serta pasokan logistik milik para prajurit yang ditawan. Kementerian Pertahanan Guinea kini telah membuka investigasi resmi untuk mendalami motif di balik pergerakan pasukan Sierra Leone ke wilayah mereka.

Bantahan Keras dari Pemerintah Sierra Leone

Di sisi lain, Pemerintah Sierra Leone melalui Kementerian Informasi memberikan pembelaan yang sangat kontradiktif dengan klaim Guinea. Mereka menegaskan bahwa personel keamanan mereka sama sekali tidak melakukan pelanggaran batas wilayah negara maupun provokasi militer.

Freetown mengklaim bahwa para prajurit tersebut sebenarnya sedang menjalankan tugas pembangunan infrastruktur di lahan yang sah milik Sierra Leone. Pada saat kejadian, para personel keamanan dilaporkan sedang sibuk membuat batu bata untuk membangun pos perbatasan dan fasilitas akomodasi pasukan.

Pemerintah Sierra Leone bersikeras bahwa pengibaran bendera nasional dilakukan di dalam wilayah kedaulatan mereka sendiri untuk mendukung operasi keamanan rutin. Mereka menuntut pembebasan segera terhadap para personel yang ditahan guna menghindari eskalasi konflik yang lebih luas.

Akar Sejarah Sengketa Wilayah dan Perebutan Intan

Perselisihan mengenai ketegangan perbatasan Guinea dan Sierra Leone ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan kompleks. Konflik ini bermula sejak masa Perang Saudara Sierra Leone yang berlangsung pada periode tahun 1991 hingga 2002 silam.

Kala itu, Guinea mengirimkan pasukan militer untuk membantu Pemerintah Sierra Leone melawan pemberontak. Namun, setelah perang berakhir, militer Guinea dilaporkan tidak sepenuhnya menarik diri dari beberapa titik strategis di perbatasan, termasuk wilayah Yenga yang sangat sensitif.

Wilayah Yenga menjadi rebutan utama karena lokasinya yang strategis serta kandungan cadangan intan yang sangat melimpah di bawah tanahnya. Ketidakjelasan garis batas peninggalan era kolonial membuat kedua negara sering kali terlibat gesekan fisik di lapangan akibat klaim tumpang tindih.

Hingga saat ini, situasi di perbatasan Faranah masih dalam pengawasan ketat oleh kedua belah pihak. Komunitas internasional berharap kedua negara dapat menahan diri dan menyelesaikan sengketa ini melalui jalur dialog diplomatik demi menjaga perdamaian di Afrika Barat.