Uptodai.com - Penjualan mobil listrik bekas kini tengah mengalami lonjakan permintaan yang sangat signifikan di pasar otomotif global. Fenomena ini muncul sebagai dampak langsung dari ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran yang memicu kekhawatiran krisis energi berkepanjangan. Banyak konsumen mulai meninggalkan kendaraan konvensional demi menghindari biaya operasional yang kian mencekik leher.

Gangguan pada jalur perdagangan di Selat Hormuz menjadi pemicu utama ketidakstabilan pasokan energi dunia saat ini. Wilayah tersebut merupakan urat nadi vital yang dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap harinya. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak dan berdampak langsung pada harga eceran bahan bakar di berbagai negara maju.

Lonjakan Permintaan di Dealer Kendaraan Listrik

Martin Miller, seorang pemilik dealer kendaraan listrik second di London, mencatatkan rekor transaksi tertinggi sepanjang sejarah bisnisnya. Hanya dalam sepekan setelah konflik pecah pada akhir Februari 2026, tokonya diserbu oleh pembeli yang panik. Miller mengaku hari Sabtu menjadi waktu tersibuk yang pernah ia alami selama mengelola usaha tersebut.

Saat ini, tim Miller tengah bergerak cepat untuk menambah stok unit kendaraan listrik melalui berbagai balai lelang otomotif. Mereka bahkan melakukan pembelian secara agresif karena meyakini tren perpindahan moda transportasi ini akan terus berlanjut. Ketidakpastian situasi di Timur Tengah membuat masyarakat mencari alternatif kendaraan yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil.

Dampak Kenaikan Harga BBM di Pasar Global

Data terbaru dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa harga rata-rata bensin per liter telah meningkat sebesar 7 persen. Kenaikan ini terhitung sejak dimulainya eskalasi militer di wilayah Teluk yang melibatkan kekuatan besar Iran. Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Uni Eropa dengan rata-rata kenaikan harga bahan bakar mencapai 8 persen.

Kondisi yang jauh lebih ekstrem terlihat di pasar Amerika Serikat, di mana harga bensin melonjak hingga 27 persen. Harga bahan bakar di Negeri Paman Sam tersebut kini menyentuh angka 3,72 dolar AS per galon hanya dalam waktu singkat. Situasi ini memaksa warga Amerika untuk merombak ulang prioritas belanja transportasi mereka demi menjaga stabilitas keuangan rumah tangga.

Pelajaran dari Krisis Energi Masa Lalu

Sejarah membuktikan bahwa guncangan harga minyak sering kali memicu perubahan struktural pada perilaku belanja otomotif masyarakat dunia. Pada krisis energi tahun 1970-an, konsumen Amerika Serikat mulai meninggalkan mobil berukuran besar yang boros bahan bakar. Mereka kemudian beralih ke kendaraan kecil yang lebih efisien dan hemat energi.

Momentum krisis masa lalu tersebut sangat menguntungkan produsen otomotif asal Jepang yang menawarkan efisiensi tinggi. Saat ini, posisi tersebut tampaknya mulai diambil alih oleh sektor kendaraan listrik second yang menawarkan solusi bebas emisi. Penghematan jangka panjang menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang ingin terlepas dari fluktuasi harga energi global.

Ambang Batas Psikologis Konsumen Otomotif

Kevin Roberts, direktur intelijen ekonomi di CarGurus, menyebutkan bahwa konsumen sangat reaktif terhadap perubahan harga di SPBU. Namun, biasanya dibutuhkan angka psikologis tertentu agar terjadi migrasi besar-besaran ke teknologi transportasi baru. Ia menilai angka 4 dolar AS per galon akan menjadi titik balik utama minat masyarakat terhadap mobil listrik.

Prediksi ini mengacu pada pola perilaku konsumen saat terjadi guncangan harga minyak pada tahun 2022 silam. Ketika itu, invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan harga energi dunia tidak terkendali dan memicu minat tinggi pada EV. Kini, pola yang sama kembali berulang seiring memanasnya suhu politik di kawasan Timur Tengah yang sangat krusial.

Salah satu konsumen di Virginia, Zach Xavier, memilih untuk tidak menunggu harga bensin naik lebih jauh lagi. Ia langsung mengunjungi dealer untuk menukarkan SUV bermesin bensin miliknya dengan model bertenaga listrik. Langkah ini diambil sebagai bentuk proteksi diri terhadap ketidakpastian ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan.