Tugas Negara Mendesak, Prabowo Batal Hadiri Harlah NU
Uptodai.com - Perayaan puncak Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Istora Senayan, Jakarta, diwarnai oleh sorotan utama: Presiden RI, Prabowo batal hadiri Harlah NU yang sudah dijadwalkan dalam agenda. Absennya orang nomor satu di Indonesia ini sontak menimbulkan pertanyaan di tengah ribuan hadirin.
Sebagai gantinya, kursi kehormatan diisi oleh Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, yang kemudian didapuk untuk memberikan sambutan resmi. Namun, ketidakhadiran ini bukan satu-satunya. Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, juga berhalangan hadir dalam perhelatan akbar organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Alasan Prabowo Batal Hadiri Harlah NU dan Koordinasi PBNU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, memberikan klarifikasi segera setelah acara selesai. Menurutnya, koordinasi teknis terkait kehadiran Presiden sebenarnya sudah dilakukan secara matang dan intensif sejak jauh hari.
Gus Yahya menjelaskan bahwa timnya telah berkoordinasi dengan berbagai perangkat kepresidenan, termasuk Paspampres dan protokol istana, untuk memastikan segala hal teknis berjalan lancar. Persiapan ini sudah rampung sejak malam sebelum acara puncak berlangsung.
Namun, pada saat-saat terakhir, terjadi perubahan mendadak. Gus Yahya menyebutkan bahwa Presiden berhalangan hadir lantaran adanya agenda kenegaraan lain yang bersifat mendesak. Tugas tersebut, menurut informasi yang diterima PBNU, terkait dengan penerimaan tamu-tamu negara yang juga hadir pada hari yang sama.
“Memang pada saat terakhir, beliau mungkin berhalangan karena ada tugas lain. Kami mendengar juga ada beberapa tugas negara terkait dengan tamu-tamu negara yang hadir pada hari ini,” ujar Gus Yahya. Meskipun Presiden absen, PBNU tetap mengapresiasi kehadiran Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, yang bersedia mengisi kekosongan dan menyampaikan amanat penting.
Kendala Kesehatan Menyebabkan Rais Aam PBNU Absen
Selain ketidakhadiran Presiden, sorotan lain tertuju pada pimpinan tertinggi NU. Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, dipastikan tidak dapat menghadiri resepsi peringatan Harlah 1 Abad NU. Gus Yahya mengonfirmasi bahwa kendala kesehatan menjadi alasan utama absennya sang kiai.
PBNU telah menerima kabar dari Rais Aam pada malam sebelumnya. Sedianya, beliau sudah berencana untuk berangkat, tetapi kondisi kesehatan yang menurun membuatnya terpaksa membatalkan rencana tersebut.
Oleh karena itu, khutbah yang secara tradisi biasa disampaikan oleh Rais Aam, akhirnya diwakilkan. Tugas mulia tersebut diemban oleh salah seorang Rais Syuriyah PBNU, yakni Profesor Doktor Kiai Haji Nasaruddin Umar.
Menariknya, Nasaruddin Umar juga merangkap jabatan sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, sehingga kehadirannya memberikan bobot ganda dalam acara tersebut. Keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa amanat dan pesan spiritual dari pimpinan tertinggi NU tetap tersampaikan kepada seluruh jamaah.
Ketidakhadiran sejumlah tokoh penting lainnya, termasuk beberapa menteri kabinet dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, juga menjadi perhatian. Gus Yahya menyatakan bahwa pihak PBNU belum menerima konfirmasi resmi mengenai alasan absennya para pembantu presiden tersebut, menunjukkan bahwa dinamika agenda kenegaraan memang sangat padat.