Uptodai.com - Wacana penggantian atap seng atau asbes menjadi genteng yang digaungkan oleh Prabowo kampanye gerakan genteng telah menarik perhatian publik, terutama para pelaku usaha di sektor bahan bangunan. Program yang dikenal dengan istilah ‘gentengisasi’ ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hunian masyarakat, sekaligus mendongkrak kembali penjualan genteng yang belakangan lesu.

Namun, meskipun gerakan tersebut telah dicanangkan, para pedagang genteng di sejumlah sentra penjualan di Jakarta Timur, seperti di sepanjang Jalan DI Panjaitan, mengaku belum merasakan adanya dampak signifikan. Kondisi toko-toko masih terlihat sepi dari pelanggan, mencerminkan lambatnya respons pasar terhadap inisiatif baru ini.

Stagnansi Penjualan Pasca Kampanye Gentengisasi

Mario, salah satu pedagang di toko Dunia Atap, mengungkapkan bahwa situasi penjualan genteng saat ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa kondisi sepi pelanggan belum berubah, meskipun program gentengisasi telah menjadi topik hangat selama beberapa hari terakhir.

“Belum ada perubahan yang terasa, kondisinya masih sepi. Mungkin karena ini baru berjalan dua hari, jadi dampaknya belum bisa langsung terlihat,” ujar Mario saat ditemui pada Rabu (4/2/2026). Ia menambahkan bahwa penjualan genteng sangat bergantung pada kondisi pasar bahan bangunan secara umum, yang memang sedang mengalami kelesuan.

Saat ini, pasar konstruksi dan bahan bangunan sedang melambat, sehingga permintaan genteng dalam jumlah besar pun ikut menurun drastis. Pembelian yang terjadi belakangan ini cenderung bersifat eceran, hanya untuk mengganti genteng rumah yang pecah atau rusak.

Ketergantungan pada Pasar Bahan Bangunan

Mario mencontohkan, rata-rata pembeli hanya mencari genteng dalam jumlah sangat kecil, sekitar 5 hingga 10 buah per transaksi. Volume penjualan yang rendah ini menunjukkan bahwa belum ada proyek renovasi besar-besaran atau penggantian atap secara massal yang dipicu oleh seruan gentengisasi.

Senada dengan Mario, Usman, pedagang dari Toko Harapan Saudara, juga mengonfirmasi bahwa inisiatif tersebut belum mampu memicu lonjakan permintaan. Ia mengakui bahwa tokonya masih sepi dan penjualan tetap stagnan di level yang sama seperti bulan-bulan sebelumnya.

“Masih seperti kemarin-kemarin, sepi. Belum ada pelanggan yang datang karena adanya rencana gentengisasi itu,” kata Usman. Kedua pedagang ini sama-sama berharap bahwa gerakan ini bukan sekadar wacana musiman, melainkan program berkelanjutan yang benar-benar bisa direalisasikan oleh masyarakat.

Harapan di Balik Pergantian Atap Seng

Para pedagang menyambut baik ide gentengisasi karena secara teknis, genteng memang menawarkan keunggulan dibandingkan atap seng atau asbes. Atap seng dikenal cepat berkarat, berisik saat hujan, dan membuat suhu di dalam rumah menjadi sangat panas.

“Memang benar atap seng itu panas dan gampang karat, tapi kan tidak semua orang punya dana untuk langsung mengganti atap mereka dalam waktu singkat,” jelas Mario. Ia menekankan bahwa meskipun program ini memiliki niat baik, dibutuhkan waktu dan dukungan finansial agar masyarakat menengah ke bawah mampu melakukan transisi tersebut.

Di tokonya, harga genteng yang ditawarkan cukup bervariasi, tergantung pada jenis dan kualitas bahan bakunya. Harga per lembar genteng berkisar mulai dari Rp3.000 hingga mencapai Rp18.000 untuk kualitas premium.

Untuk bertahan di tengah lesunya pasar, banyak toko genteng, termasuk milik Mario dan Usman, mengandalkan penjualan satuan atau per lembar. Strategi ini memungkinkan mereka melayani kebutuhan mendesak konsumen yang hanya memerlukan sedikit penggantian. Mario menyebutkan bahwa genteng tanah liat standar dijual dengan harga mulai dari Rp3.000 per lembar, yang menjadi penyelamat omzet harian mereka.