Purbaya soal Tuduhan Noel Ebenezer: Saya Tidak Terima Duit!
Uptodai.com - Klaim mengejutkan dari mantan Wakil Menteri Tenaga Kerja, Noel Ebenezer, yang menyebut bahwa Menteri Keuangan berikutnya akan menjadi target penegak hukum, memicu reaksi keras dari Purbaya Yudhi Sadewa.
Nama Purbaya disebut-sebut akan ‘di-Noel-kan’, sebuah istilah yang merujuk pada upaya kriminalisasi atau penjeratan hukum serupa yang dialami Noel. Menanggapi isu sensitif tersebut, Purbaya soal tuduhan Noel Ebenezer memberikan klarifikasi tegas mengenai perbedaan mendasar antara kasusnya dan kasus yang menjerat Noel.
Purbaya Tegaskan Tidak Ada Pelanggaran Hukum
Saat ditemui di kompleks Kementerian Keuangan, Purbaya dengan lugas menyangsikan dirinya akan terjerat dalam pusaran hukum. Ia menekankan bahwa fondasi kasus yang menimpa Noel dan posisinya saat ini sangatlah berbeda.
“Noel kan terima duit, gue mah nggak terima duit. Biar saja, yang penting gue nggak terima duit,” ujar Purbaya, dikutip pada Selasa (27/1/2026). Ia bahkan mempertanyakan kembali fakta persidangan yang menjerat eks Wamenaker tersebut. “Noel kan terima, kayaknya terima ya, terima kan dia?” tegasnya.
Purbaya menduga ada motif ketidaksukaan pribadi di balik pernyataan Noel yang dilontarkan di ruang sidang. Namun, ia tidak terlalu ambil pusing, sebab ia merasa tidak melakukan pelanggaran hukum, apalagi yang berkaitan dengan penerimaan suap atau gratifikasi.
Gaji Besar dan Integritas Pejabat Bendahara Negara
Purbaya menuturkan bahwa gaji yang ia terima sebagai pejabat bendahara negara sudah lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan hidupnya dan keluarga. Oleh karena itu, tidak ada alasan baginya untuk mengambil risiko dengan menerima suap atau uang dari pihak-pihak berkepentingan.
“Ya terima (gaji), karena gue nggak terima duit. Gaji gue gede di sini, cukup,” paparnya. “Jadi saya nggak tahu kenapa Pak Noel ngomong seperti itu. Mungkin dia sebel sama gue juga, saya tidak tahu,” lanjutnya.
Lebih jauh, Purbaya menjelaskan pandangannya mengenai integritas yang ia pegang teguh selama menjabat. Menurutnya, dengan menjaga tangan tetap bersih dan tidak menerima uang dari pihak manapun, ia dapat bekerja tanpa terbelenggu.
Kemandirian dalam mengambil keputusan dan kebijakan adalah kunci utama. Apabila seorang pejabat menerima suap, maka ia akan kehilangan kebebasan bertindak.
“Begitu saya terima uang, saya akan amat riskan posisinya, enggak bisa gerak ke sana ke sini,” kata Purbaya. Ia menambahkan bahwa penerimaan uang haram akan membuat posisinya rentan terhadap ancaman dan laporan, sehingga ia tidak bisa bebas mengambil keputusan penting, seperti memecat atau menggeser staf.
Mewaspadai Upaya Kriminalisasi
Meski yakin dirinya tidak melakukan kesalahan, Purbaya mengakui bahwa ia tetap mewaspadai adanya upaya kriminalisasi yang mungkin dilakukan oleh pihak yang merasa terganggu dengan kebijakannya. Noel sendiri mengklaim mendapatkan informasi ‘A1’ bahwa Purbaya menjadi target karena dinilai mengganggu pihak-pihak yang mencari keuntungan.
“Saya mendapatkan informasi A1, Pak Purbaya akan di-Noel-kan,” ujar Noel kala itu, mengutip sumber terpercaya.
Purbaya tidak menampik kemungkinan adanya skenario jebakan. Ia menyebut, upaya kriminalisasi bisa terjadi dengan cara yang tidak terduga, misalnya penempatan uang secara tiba-tiba di mobil atau ruang kerjanya.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap kasus hukum harus memiliki latar belakang yang jelas dan bukti yang kuat. “Ini mungkin kalau ada yang jebak, taruh uang tiba-tiba di mobil saya, itu mungkin kejadian. Tadi kan harus ada latar belakangnya dari kasus seperti apa. Saya sih rasanya enggak ada urusan,” tutup Purbaya dengan nada optimis.