Romo Mudji Sutrisno Meninggal Dunia di Usia 71: Profil Budayawan
Uptodai.com - Kabar duka menyelimuti dunia kebudayaan dan keagamaan Indonesia. Romo Mudji Sutrisno meninggal dunia pada Minggu (28/12/2025) malam di Rumah Sakit Carolus, Jakarta.
Rohaniwan sekaligus budayawan terkemuka ini berpulang di usia 71 tahun setelah mengalami sakit. Kepergiannya meninggalkan lubang besar, mengingat peran vital beliau sebagai pemikir, ahli filsafat, dan pengawal nilai-nilai toleransi bangsa.
Sosok Romo Mudji dikenal luas karena ketegasan dan kejernihannya dalam melihat isu-isu sosial yang kompleks. Selama puluhan tahun, beliau aktif menyuarakan pentingnya dialog antarbudaya dan menjunjung tinggi demokrasi di Tanah Air.
Profil Romo Mudji Sutrisno: Ahli Filsafat dan Pengawal Demokrasi
Romo Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 12 Agustus 1954. Beliau meniti karier akademik yang cemerlang, mencapai gelar profesor dan menjadi pengajar filsafat di dua institusi bergengsi.
Beliau pernah aktif mengajar filsafat di Universitas Indonesia (UI) dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Dedikasinya di dunia pendidikan menjadikannya salah satu figur intelektual yang paling disegani di Indonesia.
Selain peran sebagai rohaniwan Katolik, Romo Mudji juga dihormati sebagai seorang budayawan yang sangat kritis terhadap isu-isu kebangsaan. Mochammad Fadjroel Rachman, salah satu sahabat karibnya, menyampaikan duka mendalam atas kepergian ini.
Fadjroel menyebut Romo Mudji sebagai tokoh sastra yang konsisten berjuang demi tegaknya demokrasi dan toleransi di Indonesia. Ucapan bela sungkawa ini menunjukkan betapa luasnya spektrum pengaruh Romo Mudji di berbagai kalangan masyarakat.
Jejak Karya Tulis dan Dedikasi Romo Mudji Sutrisno
Semasa hidupnya, produktivitas Romo Mudji dalam menulis tidak diragukan lagi. Sejak tahun 1983, beliau aktif menuangkan gagasannya melalui buku dan esai yang membahas persoalan mendasar bangsa dan peradaban.
Beberapa karya monumentalnya meliputi Ide-Ide Pencerahan, Langkah-Langkah Peradaban, dan Ranah Filsafat dan Kunci Kebudayaan. Beliau juga menghasilkan buku berjudul Oase Estetis: Estetika Dalam Kata dan Sketsa.
Karya-karya tersebut seringkali berpusat pada perpaduan estetika, etika, dan kritik sosial yang tajam. Romo Mudji menggunakan filsafat sebagai alat untuk menganalisis dan menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.
Meskipun fokus utamanya adalah dunia pendidikan dan filsafat, Romo Mudji pernah menjajal peran di ranah politik praktis. Ia sempat menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001 hingga 2003.
Namun, jabatan tersebut tidak dipegang lama. Romo Mudji memilih untuk mengundurkan diri dari KPU karena alasan yang sangat mulia, yaitu fokus mengajar.
Beliau menegaskan keinginannya untuk kembali fokus mencerdaskan generasi muda bangsa sebagai dosen. Keputusan ini menunjukkan dedikasi tinggi beliau terhadap dunia intelektual di atas jabatan struktural atau politik.
Kepergian Romo Mudji Sutrisno adalah kehilangan besar bagi jagat intelektual dan budaya Indonesia. Warisan pemikiran dan semangat toleransinya akan terus menjadi panduan bagi banyak pihak yang merindukan peradaban yang lebih beretika dan toleran.