Kabar Duka, Romo Mudji Sutrisno Meninggal Dunia di Usia 71
Uptodai.com - Kabar duka menyelimuti jagat intelektual dan rohaniwan Tanah Air.
Romo Mudji Sutrisno meninggal dunia pada Minggu malam, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB di Rumah Sakit Carolus, Jakarta.
Rohaniwan Katolik sekaligus budayawan terkemuka Indonesia ini mengembuskan napas terakhirnya pada usia 71 tahun setelah menjalani perawatan karena sakit. Kepergian sosok yang dikenal sangat kritis terhadap isu kebangsaan ini meninggalkan duka mendalam bagi komunitas filsafat dan seni.
Informasi wafatnya Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, disampaikan oleh Ketua STF Driyarkara, Pastor Simon Lili Cahyadi. Jenazah almarhum Romo Mudji rencananya akan disemayamkan di Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat, tempat ia mendedikasikan banyak waktunya.
Romo Mudji Sutrisno: Filsuf yang Menyederhanakan Kompleksitas
Lahir di Solo pada 12 Agustus 1954, Romo Mudji Sutrisno dikenal sebagai sosok yang memiliki dua dimensi peran yang kuat. Ia adalah seorang rohaniwan Katolik dari ordo Serikat Yesus (SJ), sekaligus seorang filsuf dan budayawan yang karyanya selalu dinantikan.
Jejak akademisnya sangat mentereng, terutama setelah meraih gelar Doktor Filsafat dari Universitas Gregoriana di Roma. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, ia mampu menerjemahkan isu-isu kebangsaan yang rumit menjadi analogi yang mudah dicerna oleh masyarakat awam.
Karya-karya nonfiksi yang ia hasilkan sejak tahun 1983 hampir selalu terbit setiap tahun. Fokus utama tulisannya berkisar pada filsafat, etika, dan kritik tajam terhadap negara serta kepemimpinan yang dianggap menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan.
Jejak Kritis dan Keputusan Mundur dari KPU
Selain aktif dalam dunia kepenulisan dan mengajar, Romo Mudji juga pernah terlibat langsung dalam urusan kenegaraan. Ia sempat menjabat sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada periode 2000 hingga 2007.
Namun, dalam perjalanan kariernya, Romo Mudji membuat keputusan besar yang menunjukkan prioritasnya. Ia memilih melepas jabatan penting di KPU tersebut untuk kembali fokus pada panggilan sejatinya, yakni mengajar, melakukan kegiatan sosial, dan mendalami filsafat.
Keputusan tersebut memperkuat citranya sebagai seorang intelektual yang lebih memilih jalur moral dan edukasi ketimbang kekuasaan formal. Dedikasinya terhadap pendidikan terbukti melalui pengabdiannya di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara.
Warisan Pemikiran Romo Mudji
Romo Mudji Sutrisno bukan hanya seorang pengamat, tetapi juga seorang penafsir budaya dan realitas sosial. Ia selalu menekankan pentingnya estetika dan etika dalam kehidupan bernegara, menjadikannya salah satu suara nurani yang paling didengarkan di Indonesia.
Kini, setelah
Budayawan Romo Mudji Tutup Usia
, warisan pemikirannya akan terus hidup dan menjadi rujukan bagi generasi penerus. Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia sastra, filsafat, dan kerohanian di Indonesia.
Para kolega dan murid-muridnya menyampaikan rasa duka cita mendalam atas wafatnya sang guru. Mereka mengenang Romo Mudji sebagai pribadi yang humoris, namun tegas dalam memegang prinsip kebenaran dan keadilan.