Uptodai.com - Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan porsi energi bersih dalam komposisi energi nasional. Meskipun demikian, laju peningkatan persentase bauran energi baru terbarukan (EBT) masih menghadapi tantangan besar dari kebutuhan keandalan pasokan listrik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa Target Bauran EBT 2025 di Indonesia diproyeksikan mencapai angka 15,75%. Angka ini mencerminkan penambahan kapasitas EBT terbesar yang tercatat dalam lima tahun terakhir.

Target Bauran EBT 2025 Meningkat 1,1 Persen

Pencapaian persentase 15,75% pada tahun 2025 ini menunjukkan kenaikan signifikan dari capaian tahun sebelumnya. Bahlil menjelaskan, pada tahun 2024, bauran EBT nasional berada di posisi 14,65%.

Oleh karena itu, pemerintah berhasil mencatatkan penambahan persentase bauran EBT sebesar 1,1% dalam satu tahun. Peningkatan ini menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam transisi energi, meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu mulus.

Bahlil mengungkapkan, total kapasitas EBT terpasang di seluruh Indonesia saat ini sudah menyentuh 15,63 Giga Watt (GW). Angka tersebut menjadi modal penting untuk mencapai target bauran energi yang lebih ambisius di masa depan.

Mengapa Persentase EBT Tidak Melonjak Drastis?

Meskipun penambahan kapasitas EBT terpasang tergolong besar, persentase bauran energi secara keseluruhan tidak melonjak drastis. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas dan keandalan pasokan listrik nasional.

Pada saat yang bersamaan dengan penambahan EBT, pemerintah juga harus menambah kapasitas pembangkit listrik berbasis energi fosil dalam jumlah besar. Penambahan kapasitas dari gas dan batu bara mencapai sekitar 7 GW pada periode tersebut.

Bahlil menegaskan bahwa penambahan 7 GW dari pembangkit fosil ini berfungsi mengimbangi lonjakan konsumsi listrik yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi nasional. Dampaknya, ketika dikonversi menjadi persentase bauran energi, kenaikan EBT menjadi terlihat lebih moderat.

Secara keseluruhan, peningkatan kapasitas total pembangkit listrik nasional pada tahun 2025 tercatat naik 6,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Energi fosil memang masih mendominasi porsi penambahan kapasitas ini, memastikan pasokan listrik tetap aman seiring meningkatnya permintaan pasar.

Rincian Kapasitas Pembangkit EBT Terpasang

Kementerian ESDM merinci sumber-sumber energi terbarukan yang berkontribusi terhadap kapasitas terpasang 15,63 GW. Energi air (PLTA) masih menjadi tulang punggung utama dalam bauran energi bersih Indonesia.

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menyumbang kapasitas terbesar, mencapai 7,58 GW. Selanjutnya, energi bio (biomassa dan biofuel) memberikan kontribusi sebesar 3,14 GW.

Sementara itu, energi panas bumi (geotermal) tercatat sebesar 2,74 GW. Energi surya, yang potensinya sangat besar di Indonesia, baru menyumbang 1,49 GW. Kapasitas sisanya berasal dari sumber EBT lain, seperti gasifikasi batu bara, pembangkit listrik tenaga angin, hingga pemanfaatan sampah kota.

Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai target netralitas karbon, investasi pada teknologi EBT, terutama surya dan angin, harus dipercepat. Strategi diversifikasi ini menjadi kunci agar ketergantungan pada energi fosil dapat berkurang tanpa mengorbankan keandalan sistem kelistrikan nasional.