Uptodai.com - Krisis sampah nasional menuntut solusi radikal dan terukur. Program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE) kini menjadi salah satu agenda strategis yang mendapat sorotan tajam. Dalam konteks ini, Danantara dorong transparansi WtE sejak tahap perencanaan untuk memastikan proyek ini berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik.

Danantara Indonesia memandang proyek WtE bukan sekadar urusan teknologi, melainkan bagian krusial dari kebijakan publik lintas sektor. Oleh karena itu, fokus utama diletakkan pada penguatan tata kelola dari hulu hingga hilir, terutama dalam proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) PSEL.

Danantara Tekankan Tata Kelola Kuat Sejak Awal

Fadli Rahman, selaku Lead of Waste-to-Energy Danantara Investment Management, menegaskan bahwa peran Danantara dimulai sejak awal perencanaan proyek. Ia menekankan pentingnya memastikan kualitas tata kelola serta pemilihan teknologi yang tepat guna bagi kondisi Indonesia.

Menurut Fadli, pemilihan BUPP PSEL harus dilakukan secara transparan dan berbasis pada mitigasi risiko yang ketat. Proses ini menjadi vital untuk menjamin bahwa investasi besar dalam proyek WtE benar-benar memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dan lingkungan.

Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah diskusi strategis yang diadakan di CSIS Auditorium Pakarti Centre Building, Jakarta, beberapa waktu lalu. Kajian yang dilakukan Tenggara Strategics juga memperkuat pandangan ini, menyimpulkan bahwa WtE dapat dikembangkan secara rasional sebagai solusi awal pengelolaan sampah perkotaan sekaligus mendukung transisi energi nasional.

Prasyarat Ketat Penerapan Teknologi WtE Modern

Aspek lingkungan dan kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius dalam implementasi WtE. Guru Besar IPB, Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono, menyoroti bahwa teknologi WtE modern sebetulnya dapat diterapkan secara aman di Indonesia, asalkan prasyaratnya dipenuhi secara ketat.

Insinerator modern, jelas Arief, memiliki kemampuan untuk mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen. Hal ini didukung oleh standar pengendalian emisi yang sangat ketat, sehingga dampak buruk terhadap kualitas udara dapat diminimalisir.

Namun demikian, kunci keberhasilan proyek ini terletak pada dua hal. Pertama, pemilihan teknologi harus sesuai dengan karakteristik sampah nasional yang cenderung memiliki kadar air tinggi. Kedua, pengawasan lingkungan harus dilakukan secara transparan dan berkelanjutan oleh pihak independen.

Belajar dari Pengalaman Global dalam Pengelolaan Sampah

Kajian mendalam mengenai WtE juga membandingkan praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan di berbagai negara. Pembelajaran global ini menunjukkan bahwa WtE dapat berjalan efektif jika didukung oleh kerangka kebijakan yang konsisten dan tata kelola yang kuat.

Misalnya, Swedia berhasil membuang kurang dari 1 persen sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), menunjukkan efisiensi luar biasa dari sistem WtE mereka. Sementara itu, Singapura mengandalkan empat fasilitas WtE raksasa untuk mengurangi volume sampah hingga 90 persen.

Di Asia, Tiongkok juga menunjukkan komitmen besar. Negara tersebut telah meningkatkan jumlah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) menjadi 696 unit, bahkan mencapai rasio pengolahan sampah 100 persen melalui WtE. Data ini menegaskan bahwa WtE adalah instrumen yang rasional untuk mengatasi krisis sampah perkotaan.

Oleh karena itu, temuan ini menegaskan bahwa Indonesia harus mengadopsi kerangka kebijakan yang tepat dan implementasi yang konsisten. Dengan demikian, program WtE tidak hanya berfungsi sebagai solusi pengelolaan sampah, tetapi juga berperan penting dalam mendukung upaya transisi energi nasional.