Dampak Perang AS-Iran, Harga Bensin di Jepang Naik Tajam
Uptodai.com - Harga bensin di Jepang naik tajam dalam beberapa pekan terakhir sebagai imbas langsung dari memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan ini memicu kekhawatiran besar bagi masyarakat Negeri Sakura yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi impor. Berdasarkan data terbaru, tren kenaikan ini diperkirakan masih akan berlanjut jika ketegangan militer tidak segera mereda.
Mengutip laporan dari Kyodo News, rata-rata harga bensin eceran di Jepang menyentuh angka 161,80 yen per liter pada Senin, 11 Maret 2026. Nilai tersebut setara dengan Rp17.100 per liter, atau mengalami kenaikan sekitar 3,30 yen dibandingkan posisi pada awal Maret lalu. Fenomena ini menandai kenaikan harga untuk keempat kalinya secara berturut-turut dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Pemicu Utama Kenaikan Harga Minyak Dunia
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang mengungkapkan bahwa lonjakan harga domestik ini merupakan efek domino dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Situasi pasar energi global menjadi sangat fluktuatif setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Aksi militer tersebut menciptakan ketidakpastian tinggi terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan Teluk.
Para analis energi memperingatkan bahwa stabilitas pasokan global kini berada dalam posisi yang rentan. Jika konflik di Timur Tengah terus meluas, jalur perdagangan utama seperti Selat Hormuz bisa terganggu secara signifikan. Hal inilah yang mendorong para spekulan pasar untuk menaikkan ekspektasi harga minyak mentah dalam jangka pendek.
Pusat Informasi Minyak Jepang bahkan mengeluarkan prediksi yang cukup mengkhawatirkan bagi para pemilik kendaraan. Mereka memperkirakan harga bensin di tingkat nasional bisa melonjak lagi hingga 20 yen dalam sepekan ke depan. Jika prediksi ini terbukti, harga bensin di Jepang berpotensi menembus angka psikologis di atas 180 yen per liter.
Tantangan Berat bagi Pemerintahan Sanae Takaichi
Kondisi ini menjadi ujian berat bagi kabinet Perdana Menteri Sanae Takaichi yang sedang berupaya keras mengendalikan inflasi nasional. Kenaikan harga bahan bakar secara otomatis akan meningkatkan biaya logistik dan operasional berbagai sektor industri. Pemerintah kini harus memutar otak untuk menemukan solusi agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus oleh biaya energi.
Padahal, masyarakat Jepang sempat menikmati periode harga bahan bakar yang relatif rendah pada akhir tahun lalu. Kebijakan berakhirnya pajak sementara bahan bakar pada Desember sempat membawa harga bensin ke titik terendah dalam empat setengah tahun terakhir. Pada pertengahan Januari, harga bensin bahkan masih bertahan di kisaran 154,70 yen atau sekitar Rp16.400 per liter.
Stabilitas harga pada awal tahun tersebut sebenarnya telah membantu Jepang menekan laju inflasi nasional hingga ke level 2,0 persen. Angka tersebut merupakan pencapaian terendah dalam dua tahun terakhir bagi ekonomi Jepang. Namun, tren positif tersebut kini terancam sirna akibat gejolak harga energi yang kembali menghantam seluruh 47 prefektur di Jepang.
Dampak Luas pada Solar dan Minyak Tanah
Kenaikan harga ternyata tidak hanya menyasar bensin, tetapi juga merembet ke jenis bahan bakar lainnya. Harga solar tercatat merangkak naik menjadi 149,8 yen per liter atau setara dengan Rp15.900 per liter. Kenaikan ini tentu membebani sektor transportasi logistik yang banyak menggunakan armada bermesin diesel.
Selain itu, harga minyak tanah yang menjadi kebutuhan vital rumah tangga di Jepang juga ikut melambung. Harga minyak tanah naik menjadi 2.267 yen per 18 liter, yang merupakan ukuran standar tangki penyimpanan rumah tangga. Kenaikan ini sangat dirasakan oleh warga, terutama mereka yang masih menghadapi sisa musim dingin dan membutuhkan pemanas ruangan.
Situasi ini menunjukkan betapa rentannya ekonomi sebuah negara terhadap konflik bersenjata yang terjadi di belahan dunia lain. Pemerintah Jepang kini terus memantau perkembangan di Timur Tengah sambil menyiapkan langkah-langkah mitigasi ekonomi. Jika harga terus terbang tinggi, bukan tidak mungkin kebijakan subsidi energi akan kembali digulirkan demi menjaga stabilitas nasional.