Bos Haka Auto Minta Kepastian Insentif Mobil Listrik Tahun 2026
Uptodai.com - Pemerintah perlu segera memberikan kepastian insentif mobil listrik agar tidak terjadi stagnasi pasar yang disebabkan oleh sikap ragu-ragu dari calon pembeli. CEO Haka Auto, Hariyadi Kaimuddin, mengungkapkan bahwa kebijakan yang belum jelas berisiko membuat konsumen lebih memilih untuk menunda transaksi mereka.
Menurut Hariyadi, situasi pasar saat ini sangat bergantung pada arah kebijakan fiskal yang akan diterapkan pada tahun mendatang. Jika regulasi mengenai subsidi atau keringanan pajak terus menggantung, industri otomotif justru akan menghadapi hambatan besar dalam mencapai target pertumbuhan.
Dampak Ketidakpastian Kebijakan terhadap Konsumen
Hariyadi menegaskan bahwa kejelasan regulasi merupakan kunci utama untuk menjaga momentum adopsi kendaraan ramah lingkungan di tanah air. Konsumen cenderung bersikap wait and see ketika mendengar kabar burung mengenai perubahan skema insentif dari pemerintah.
“Kami sangat berharap ada keputusan yang pasti terkait kebijakan ini. Kalau insentif dibiarkan menggantung, hal tersebut justru menghambat minat masyarakat dan membuat mereka menunda pembelian mobil baru,” ujar Hariyadi di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa jika pemerintah memang berencana memberikan insentif, maka aturannya harus jelas, transparan, dan konsisten dalam jangka panjang. Langkah ini sangat penting agar para pelaku usaha dapat menyusun strategi pemasaran dan distribusi dengan lebih akurat.
Aturan Impor CBU dan Target Produksi Lokal
Pemerintah sebelumnya telah menetapkan bahwa skema impor utuh atau Completely Built-Up (CBU) untuk kendaraan listrik murni hanya berlaku hingga akhir 2025. Memasuki 1 Januari 2026, peta jalan industri otomotif nasional akan mengalami perubahan signifikan yang menuntut komitmen lebih besar dari produsen.
Mulai awal 2026 hingga akhir 2027, para produsen mobil listrik diwajibkan untuk memenuhi komitmen produksi lokal. Pemerintah menerapkan rasio 1:1 yang harus disesuaikan dengan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang telah ditetapkan dalam regulasi terbaru.
Namun, hingga saat ini pelaku industri masih menunggu detail teknis mengenai bagaimana kelanjutan insentif tersebut akan dijalankan pada 2026. Tanpa adanya petunjuk teknis yang kuat, para investor dan distributor merasa sulit untuk memproyeksikan angka penjualan secara optimal.
Fokus pada Infrastruktur Pengisian Daya
Di sisi lain, Hariyadi melihat bahwa ketergantungan terhadap subsidi mungkin akan berkurang seiring dengan kemajuan teknologi baterai. Ia memprediksi bahwa harga mobil listrik akan semakin kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat luas di masa depan.
“Secara jangka panjang, ketika harga baterai semakin murah, subsidi mungkin tidak lagi menjadi faktor penentu utama. Dukungan yang jauh lebih krusial saat ini adalah percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya atau charging station,” jelasnya lebih lanjut.
Haka Auto mendorong pemerintah untuk lebih fokus memperluas jaringan pengisian daya hingga ke pelosok daerah. Ketersediaan fasilitas pengisian yang merata akan memberikan rasa aman bagi pengguna mobil listrik untuk melakukan perjalanan jarak jauh tanpa rasa khawatir.
Ekspansi Agresif Haka Auto dan Penjualan BYD
Meskipun menghadapi tantangan regulasi, Haka Auto tetap menunjukkan optimisme tinggi dengan merencanakan ekspansi jaringan penjualan yang sangat agresif. Perusahaan menargetkan untuk mengoperasikan hingga 60 cabang dealer di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2026.
Saat ini, Haka Auto telah mengelola 15 outlet untuk merek BYD serta dua cabang khusus untuk merek premium, Denza. Fokus perluasan jaringan ini tidak hanya menyasar kota besar, tetapi juga mulai merambah ke kota-kota tier 2 dan tier 3 di wilayah Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Berdasarkan data performa tahun lalu, BYD berhasil mencatatkan angka distribusi wholesales yang impresif sebanyak 46.711 unit sepanjang 2025. Haka Auto sendiri berkontribusi kurang dari 20% terhadap total penjualan tersebut, namun mereka yakin angka ini akan melonjak tajam seiring bertambahnya jumlah dealer.
Dengan prospek kendaraan listrik yang semakin cerah, sinergi antara kepastian insentif mobil listrik dan kesiapan infrastruktur menjadi fondasi utama. Haka Auto berkomitmen untuk terus mendukung transformasi ekosistem transportasi hijau di Indonesia melalui pelayanan purna jual yang lebih luas.