Uptodai.com - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyoroti pergeseran signifikan dalam lanskap otomotif nasional. Indikasi kuat menunjukkan bahwa pasar LCGC tergerus mobil listrik berharga kompetitif, terutama yang dibanderol di kisaran Rp200 jutaan.

Fenomena ini bukan sekadar persaingan biasa, melainkan sebuah perubahan preferensi konsumen yang didorong oleh banjirnya model-model kendaraan energi baru (NEV) dari pabrikan global, khususnya China.

Persaingan Harga Mobil Listrik Murni dan LCGC

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menjelaskan bahwa masuknya banyak merek dan model baru ke pasar dengan rentang harga yang setara dengan Low Cost Green Car (LCGC) telah memicu perpindahan minat beli. Konsumen kini memiliki alternatif yang lebih modern dengan harga yang serupa.

“Karena banyaknya merek dan model-model baru yang masuk ke pasar dengan kisaran harga sama dengan LCGC, jadi banyak yang beralih ke merek dan model-model tersebut,” tutur Jongkie, menggarisbawahi tekanan kompetitif yang dihadapi LCGC.

Beberapa model mobil listrik terjangkau yang kini membanjiri pasar antara lain BYD Atto 1 dengan harga mulai Rp199 juta, Changan Lumin mulai Rp183 juta, Geely EX2 mulai Rp229,9 juta, hingga Jaecoo J5 EV yang dibanderol mulai Rp249,9 juta. Harga-harga ini secara langsung berhadapan dengan segmen LCGC yang kini rata-rata dijual di atas Rp150 juta.

Data Gaikindo Membuktikan Penurunan Drastis LCGC

Data distribusi wholesales Gaikindo mencatat, penjualan LCGC sepanjang periode Januari hingga Desember 2025 hanya mencapai 122.686 unit. Angka ini mencerminkan kemerosotan tajam sebesar 30,6% secara tahunan (YoY), dibandingkan capaian 176.766 unit pada 2024.

Penjualan ritel, atau dari dealer ke konsumen akhir, juga mengalami nasib serupa. Penjualan ritel LCGC tercatat sebanyak 130.799 unit pada periode yang sama, turun 27% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 178.726 unit.

Lesunya segmen mobil murah ramah lingkungan ini terjadi di tengah pelemahan pasar otomotif secara umum dan meningkatnya tekanan persaingan dengan merek kendaraan listrik asal China.

Kontras Kenaikan Penjualan Mobil Listrik Murni

Berbanding terbalik dengan kondisi LCGC, total penjualan wholesales mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) justru mencetak rekor fantastis. Sepanjang 2025, BEV berhasil didistribusikan sebanyak 103.931 unit.

Pencapaian ini menunjukkan lonjakan masif sebesar 140,64% dibandingkan total penjualan BEV pada 2024 yang hanya 43.188 unit. Lonjakan ini terjadi berkat kehadiran model-model EV yang sangat agresif dalam hal harga, yang didukung oleh sejumlah insentif yang diberikan pemerintah.

Meskipun pemerintah telah menghentikan insentif berupa pembebasan bea masuk impor utuh (CBU) pada akhir tahun lalu, dampak dari harga yang sudah terlanjur rendah dan daya tarik teknologi baru tetap membuat BEV unggul dalam memikat konsumen.

Daya Beli Konsumen Otomotif dan Kenaikan Harga LCGC

Pakar Otomotif sekaligus Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menambahkan sudut pandang lain mengenai pelemahan pasar LCGC tergerus mobil listrik. Menurutnya, masalah utama ada pada menurunnya daya beli kelas menengah Indonesia.

Yannes mencatat bahwa populasi kelas menengah telah menyusut sebesar 16,6% sejak tahun 2019. Kondisi ini membuat konsumen yang selama ini menjadi target utama produk LCGC pabrikan Jepang semakin sensitif terhadap setiap perubahan harga yang terjadi di pasar.

Kenaikan harga LCGC yang signifikan menjadi faktor penekan lain. Produk yang semula dipasarkan di kisaran Rp80 juta pada 2013, kini telah mencapai rentang Rp138 juta hingga di atas Rp200 juta. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan biaya produksi dan pertambahan margin profit tahunan.

Faktor kenaikan harga LCGC, ditambah dengan opsi kendaraan listrik yang menawarkan teknologi lebih mutakhir dan potensi biaya operasional yang lebih rendah, membuat segmen LCGC kehilangan daya tarik utamanya sebagai kendaraan paling terjangkau di pasar.