Penjualan Mobil Listrik BYD Anjlok 41 Persen pada Februari 2026
Uptodai.com - Penjualan mobil listrik BYD anjlok secara tajam pada periode Februari 2026 akibat dinamika pasar domestik Tiongkok yang sedang mengalami tekanan hebat. Raksasa otomotif yang dikenal sebagai produsen kendaraan energi baru (NEV) terbesar di dunia ini melaporkan total pengiriman sebanyak 190.190 unit sepanjang bulan tersebut.
Angka pencapaian tersebut menunjukkan penurunan drastis sebesar 41,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Secara bulanan, performa perusahaan juga menunjukkan tren negatif dengan pelemahan sebesar 9,5 persen dari capaian Januari 2026 yang sempat menyentuh 210.051 unit.
Dampak Libur Imlek dan Pengurangan Hari Kerja
Pihak manajemen BYD mengungkapkan bahwa penurunan performa ini sangat dipengaruhi oleh momentum libur panjang Tahun Baru Imlek 2026. Perayaan nasional yang berlangsung pada tanggal 15 hingga 23 Februari tersebut secara otomatis memangkas jumlah hari kerja efektif di seluruh pabrik dan jaringan distribusi.
Kondisi ini menciptakan hambatan logistik yang signifikan dalam proses pengiriman unit kepada konsumen di berbagai wilayah. Selain itu, aktivitas operasional diler yang terbatas selama masa liburan turut menekan angka pemesanan kendaraan baru di pasar domestik Tiongkok.
Jika menilik rincian data, segmen kendaraan penumpang energi baru menjadi kontributor utama penurunan ini dengan total penjualan 187.782 unit. Angka ini mencerminkan koreksi tahunan sebesar 41 persen, yang sekaligus menandakan lesunya daya beli masyarakat terhadap mobil ramah lingkungan di awal tahun.
Ekspor Menjadi Penopang di Tengah Lesunya Pasar Domestik
Meskipun pasar domestik sedang terpuruk, performa ekspor BYD justru menunjukkan tren yang berbanding terbalik dan menjadi penyelamat neraca perusahaan. BYD mencatatkan pengiriman ke luar negeri sebanyak 100.600 unit pada Februari 2026, atau melonjak tajam 50,1 persen secara tahunan.
Pencapaian ini sekaligus menandai keberhasilan perusahaan dalam mempertahankan angka ekspor di atas 100.000 unit selama empat bulan berturut-turut. Ekspansi global yang agresif melalui model-model unggulan seperti BYD Atto 3 terbukti efektif meredam dampak negatif dari perlambatan ekonomi di dalam negeri.
Keberhasilan di pasar internasional ini menunjukkan bahwa minat konsumen global terhadap teknologi kendaraan listrik asal China masih sangat tinggi. BYD terus memperkuat jaringan distribusi di Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika Latin guna mengurangi ketergantungan pada pasar Tiongkok.
Persaingan Mobil Hybrid dan Listrik Murni
Dalam komposisi produk yang terjual, mobil hybrid plug-in (PHEV) ternyata masih lebih diminati oleh konsumen dibandingkan kendaraan listrik murni (BEV). Penjualan unit PHEV tercatat mencapai 108.243 unit, meskipun angka ini tetap mengalami penurunan sebesar 44 persen dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, segmen mobil listrik murni atau BEV membukukan penjualan sebanyak 79.539 unit, terkoreksi 36 persen dari posisi Februari 2025. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen masih memprioritaskan fleksibilitas jarak tempuh yang ditawarkan oleh mesin hybrid.
Keterbatasan infrastruktur pengisian daya yang belum merata di sejumlah wilayah pinggiran Tiongkok disinyalir menjadi alasan utama konsumen tetap memilih PHEV. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi BYD untuk terus mempercepat edukasi dan pengembangan ekosistem pengisian daya yang lebih masif.
Tantangan Kebijakan Pajak dan Tekanan Industri
Sektor kendaraan komersial BYD juga tidak luput dari tekanan pasar dengan hanya mengirimkan 2.408 unit, turun 47,8 persen secara tahunan. Penurunan di hampir seluruh lini bisnis ini mencerminkan tantangan makroekonomi yang harus dihadapi industri otomotif Tiongkok pada kuartal pertama 2026.
Pemerintah Tiongkok sendiri baru saja menerapkan kebijakan pajak pembelian baru sebesar 5 persen untuk mobil listrik pada awal tahun ini. Kebijakan fiskal tersebut diduga kuat menjadi pemicu konsumen untuk menunda pembelian kendaraan baru hingga kondisi pasar lebih stabil.
Pelemahan ini ternyata tidak hanya dialami oleh BYD, melainkan juga dirasakan oleh kompetitor utamanya seperti Geely Auto. Meskipun Geely mencatat total penjualan 206.160 unit, mereka juga sangat bergantung pada lonjakan ekspor sebesar 138 persen untuk menutupi penurunan permintaan domestik.
Di sektor hulu, kapasitas terpasang baterai penyimpanan daya BYD mencapai 18,773 GWh pada Februari, tumbuh 12,5 persen secara tahunan. Namun, angka ini tetap turun 7 persen dibandingkan Januari, yang menunjukkan adanya penyesuaian ritme produksi di tengah fluktuasi permintaan kendaraan global.