Uptodai.com - Kinerja sektor otomotif nasional sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren perlambatan yang cukup signifikan. Berdasarkan data resmi dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil wholesales 2025 tercatat hanya menembus angka 803.687 unit.

Angka tersebut merefleksikan adanya penurunan sebesar 7,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan capaian pada periode 2024. Tahun sebelumnya, distribusi mobil dari pabrik ke dealer berhasil mencapai 865.723 unit, menandakan adanya tekanan pasar yang cukup kuat.

Penjualan Mobil Wholesales 2025 di Bawah Ekspektasi Awal

Tidak hanya penjualan wholesales yang melambat, sektor ritel—yakni penjualan dari dealer langsung ke konsumen—juga mengalami kontraksi. Penjualan ritel selama 2025 hanya mencapai 833.692 unit, turun 6,3% dibandingkan 889.680 unit yang tercatat pada tahun 2024.

Meskipun demikian, capaian total ini masih berhasil melampaui target yang telah direvisi oleh Gaikindo, yaitu sebanyak 780.000 unit. Gaikindo sebelumnya sempat memasang target optimistis di kisaran 850.000 hingga 900.000 unit, namun harus melakukan penyesuaian di tengah kondisi pasar yang kurang kondusif.

Revisi target tersebut menunjukkan bahwa pelaku Industri Otomotif Indonesia 2025 sudah membaca sinyal perlambatan ekonomi sejak pertengahan tahun. Berbagai faktor makroekonomi, termasuk suku bunga tinggi dan melemahnya daya beli, menjadi penghambat utama pertumbuhan.

Promosi Besar Mendorong Lonjakan di Akhir Tahun

Menariknya, meskipun kinerja tahunan cenderung lesu, Desember 2025 justru menjadi bulan yang sangat agresif bagi pasar otomotif. Penjualan mobil wholesales melonjak tajam hingga 25,7% YoY, mencapai 94.100 unit, jauh di atas 74.853 unit pada Desember 2024.

Tren serupa juga terjadi pada penjualan ritel yang meningkat 22,7% menjadi 93.833 unit pada bulan terakhir 2025. Kenaikan signifikan ini menjadi anomali di tengah tren penurunan sepanjang tahun.

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menjelaskan bahwa lonjakan ini dipicu oleh strategi Agen Pemegang Merek (APM) yang “ngebut” di penghujung tahun. Para APM gencar memberikan diskon besar-besaran dan promosi habis-habisan untuk menghabiskan stok unit 2025.

Dampak Berakhirnya Insentif Pemerintah

Selain faktor diskon, Jongkie juga menyoroti pengaruh dihentikannya beberapa insentif pemerintah. Salah satu insentif yang dicabut adalah bebas bea masuk impor utuh (completely built up/CBU) untuk kendaraan listrik tertentu.

Kebijakan ini mendorong konsumen yang sudah berencana membeli kendaraan listrik untuk segera melakukan transaksi sebelum insentif tersebut benar-benar berakhir. Hal ini menciptakan dorongan permintaan yang signifikan, khususnya pada segmen mobil energi baru.

Pabrikan Dominan di Pasar Nasional 2025

Meskipun pasar mengalami penurunan, dominasi beberapa pabrikan besar tetap terlihat jelas dalam penjualan mobil wholesales 2025. Toyota berhasil memimpin pasar dengan distribusi mencapai 250.431 unit sepanjang tahun.

Di posisi kedua, Daihatsu membukukan penjualan sebanyak 130.677 unit. Sementara itu, Mitsubishi Motors mengamankan posisi ketiga dengan total 71.781 unit. Ketiga merek ini secara konsisten menguasai pangsa pasar mobil penumpang dan niaga ringan di Indonesia.

Untuk proyeksi ke depan, Gaikindo belum menetapkan target resmi untuk tahun 2026. Jongkie menekankan bahwa industri harus tetap menjaga optimisme, namun dengan pendekatan yang realistis. Target pasti untuk tahun mendatang masih menunggu pembahasan lebih lanjut dengan seluruh anggota asosiasi.