Uptodai.com - Penyebab truk rem blong kembali menjadi sorotan tajam setelah kecelakaan maut mengguncang kawasan Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Insiden tragis ini melibatkan sebuah truk Isuzu yang kehilangan kendali saat melintasi jalur menurun yang cukup curam. Peristiwa memilukan tersebut terjadi di sepanjang jalur dari Jalan Diponegoro menuju Jalan Pattimura.

Pengemudi truk diduga tidak mampu menguasai kendaraan saat sistem pengereman mendadak tidak berfungsi dengan semestinya. Akibatnya, kendaraan besar tersebut meluncur bebas dan menghantam sejumlah kendaraan lain yang berada di depannya. Kejadian ini menambah daftar panjang kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan angkutan barang di wilayah perbukitan.

Kronologi Kecelakaan Maut di Jalur Menurun Kota Batu

Ipda Agus Atang Wibowo, Kanit Gakkum Satlantas Polres Batu, menjelaskan bahwa truk bernomor polisi P 8640 UG tersebut melaju dari arah Barat ke Timur. Kendaraan yang dikemudikan oleh Eko Wahyudi (33) itu tiba-tiba mengalami gangguan fungsi rem saat berada di medan jalan menurun. Pengemudi kehilangan kendali sepenuhnya atas laju truk bermuatan tersebut.

Truk tersebut kemudian menghantam empat kendaraan secara beruntun, termasuk Daihatsu, Gran Max, dan dua sepeda motor Honda Beat. Laju truk baru benar-benar terhenti setelah menabrak tiang listrik di pinggir jalan dengan benturan yang sangat keras. Insiden ini mengakibatkan seorang pengendara motor meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka serius di bagian kepala.

Petugas kepolisian segera mengevakuasi korban luka-luka ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Sementara itu, kendaraan yang terlibat kecelakaan mengalami kerusakan parah dan harus diderek dari lokasi agar tidak mengganggu arus lalu lintas. Pihak berwenang kini tengah mendalami lebih lanjut mengenai kelaikan jalan dari truk tersebut.

Analisis KNKT Mengenai Pemicu Kegagalan Rem Truk

Menanggapi kejadian ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memberikan analisis mendalam mengenai faktor teknis di lapangan. Plt Ketua Subkomite Lalu Lintas Angkutan Jalan KNKT, Ahmad Wildan, mengungkapkan bahwa kurangnya kemahiran pengemudi sering kali menjadi akar masalah. Banyak sopir yang tidak memiliki kualifikasi atau SIM yang sesuai dengan jenis kendaraan yang mereka operasikan.

Ahmad Wildan menekankan pentingnya penggunaan gigi rendah saat kendaraan besar memasuki jalur menurun yang panjang. Penggunaan gigi rendah secara konsisten akan membantu menahan laju kendaraan melalui mesin atau engine brake. Hal ini secara otomatis akan mengurangi beban kerja pedal rem utama sehingga risiko panas berlebih dapat diminimalisir.

Kesalahan fatal yang sering dilakukan pengemudi adalah memindahkan gigi atau membiarkan posisi netral saat berada di turunan. Tindakan ini sangat berbahaya karena kendaraan bisa kehilangan daya cengkeram mesin dan melaju tak terkendali. Jika sudah masuk ke posisi netral di jalan menurun, pengemudi akan sangat sulit untuk mengembalikan posisi gigi ke tingkat rendah.

Bahaya Overheat dan Penurunan Tekanan Angin

Selain faktor kesalahan manusia, penyebab truk rem blong juga berkaitan erat dengan kondisi sistem pengereman yang mengalami overheat. Panas yang berlebihan pada kampas rem membuat daya cengkeram hilang seketika atau sering disebut sebagai fading. Kondisi ini biasanya terjadi karena pengemudi menginjak pedal rem secara terus-menerus dalam durasi yang lama.

Faktor lain yang tidak kalah krusial adalah penurunan tekanan angin pada sistem pengereman pneumatik. Truk modern sangat bergantung pada tekanan angin untuk mengaktifkan mekanisme pengereman secara maksimal. Jika tekanan angin turun di bawah batas aman, maka sistem rem tidak akan memiliki kekuatan yang cukup untuk menghentikan putaran roda.

KNKT menyarankan para pengemudi untuk mengaktifkan exhaust brake saat putaran mesin atau RPM mulai mendekati zona merah. Jika RPM tetap meningkat, pengemudi wajib menginjak pedal rem dengan kuat sambil menonaktifkan exhaust brake hingga RPM turun kembali. Pemahaman teknis seperti ini sangat wajib dikuasai oleh setiap pengemudi kendaraan berat demi menjaga keselamatan di jalan raya.