Uptodai.com - Dunia otomotif dan gaya hidup terus berinteraksi, menciptakan tren baru yang sering kali mengubah fungsi murni sebuah aksesori menjadi pernyataan estetika. Salah satu fenomena yang paling kentara saat ini adalah tren bike rack di mobil, yang telah bertransformasi dari kebutuhan logistik menjadi simbol ‘kalcer’ atau kultur gaya hidup.

Awalnya, rak sepeda atau bike rack di atap mobil merupakan perangkat wajib bagi para pesepeda yang hobi melakukan touring atau bersepeda di lokasi yang jauh. Namun demikian, fungsi praktis tersebut kini bergeser, mengikuti dinamika modifikasi dan keinginan pemilik mobil untuk menampilkan karakter diri.

Transformasi Fungsi: Ketika Sepeda Tidak Selalu Ikut

Pergeseran fungsi bike rack ini memiliki akar kuat dari kebutuhan ruang yang terbatas di dalam kabin. Para pesepeda, seperti yang dialami Aris—yang akrab disapa Pak Cink—menjelaskan bahwa sepeda lipat memang masih bisa diselipkan di bagasi.

Namun, saat membawa sepeda jenis road bike atau minivelo, ruang bagasi tidak lagi memadai. Ban sepeda harus dilepas, kursi baris kedua dan ketiga dilipat, dan akibatnya, kapasitas penumpang untuk keluarga pun berkurang drastis.

Alasan pergeseran ini bukan hanya soal efisiensi ruang, tetapi juga tentang estetika. Saat ini, kita dapat melihat berbagai jenis mobil—mulai dari city car bergaya stance, MPV yang dimodifikasi ekstrem, hingga SUV gagah—yang memasang bike rack, bahkan ketika rak tersebut kosong tanpa sepeda.

Bike Rack sebagai Sentuhan Akhir Modifikasi

Bagi sebagian penggemar mobil atau car enthusiast, bike rack memberikan dimensi seni tersendiri pada konsep modifikasi yang diusung. Aksesori atap ini dianggap sebagai sentuhan akhir yang membuat tampilan mobil menjadi lebih padat dan berisi, memancarkan aura outdoor lifestyle atau gaya “anak senja”.

Aris, pengguna Chery Tiggo 8, mengakui bahwa selain fungsinya yang sesekali terpakai, memasang bike rack di mobilnya hanya untuk membuat tampilan mobil terlihat lebih keren. Aksesori ini menjadi bagian dari kultur modifikasi yang bertujuan menonjolkan karakter petualang dan dinamis dari pemiliknya.

Pemasangan bike rack ini seringkali disandingkan dengan konsep modifikasi lain, misalnya penggunaan ban bertapak tebal atau pemasangan roof box yang semakin mempertegas kesan siap berpetualang.

Investasi Gaya Hidup: Dana yang Harus Disiapkan

Untuk dapat memasang modifikasi mobil pakai bike rack, pemilik kendaraan harus menyiapkan beberapa komponen pendukung. Komponen paling vital adalah crossbar, yang berfungsi sebagai palang penopang utama yang dipasang melintang di atap mobil atau dijepitkan pada roof rail bawaan.

Harga crossbar sendiri sangat bervariasi, mulai dari Rp 1 jutaan untuk merek standar hingga mencapai Rp 8 jutaan untuk merek premium dengan kualitas material terbaik. Setelah crossbar terpasang, barulah bike rack dapat diposisikan di atasnya.

Di pasaran, pilihan merek bike rack cukup beragam, mulai dari merek global terkenal seperti Thule, hingga merek lokal seperti Whale dan Rockbros. Rentang harganya pun lebar, mulai dari yang ekonomis sekitar Rp 2 jutaan hingga yang premium di atas Rp 4 jutaan.

Ikbar Nugraha, pemilik Nissan Grand Livina dari komunitas ROOFBOXXGANG, mengaku bangga dengan aksesori premium yang terpasang di mobilnya. “Pasang bike rack memang buat gaya saja. Dipakai juga jarang, paling sesekali bawa sepeda anak. Dipake enggak dipake, bike rack tetap nangkring di atas mobil terus! Ya maklum Thule,” ujarnya.

Dengan demikian, bagi mereka yang ingin mengikuti tren ini dan membuat tampilan mobil terlihat ‘kalcer’, total dana yang harus disiapkan untuk keseluruhan sistem aksesori atap mobil fungsional ini berkisar antara Rp 5 jutaan hingga Rp 12 jutaan. Biaya tersebut merupakan investasi gaya hidup yang sepadan demi mendapatkan tampilan mobil yang unik dan berkarakter.