Uptodai.com - Sejak pertama kali diperkenalkan, potensi pasar Veloz Hybrid buatan Indonesia langsung menunjukkan taringnya. Model elektrifikasi terbaru dari Toyota ini memang baru diperkenalkan pada ajang Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) November 2025 lalu.

Meskipun statusnya belum diluncurkan secara resmi, PT Toyota Astra Motor (TAM) telah membuka keran pemesanan atau pre-booking. Harga yang ditawarkan pun cukup menggiurkan, dimulai dari Rp 299 juta on the road (OTR) Jakarta. Menariknya, fokus pasar domestik yang diutamakan ternyata tidak menghalangi minat dari pasar global.

Minat Global pada Veloz Hybrid Buatan Indonesia

Model yang diproduksi di pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) ini ternyata sudah mulai dilirik oleh beberapa negara tujuan ekspor. Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, di Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (8/1/2026).

Nandi menjelaskan bahwa saat ini TMMIN masih memprioritaskan pasar dalam negeri. Fokus utama produksi adalah unit dengan konfigurasi setir kanan. “Kami kalau Veloz Hybrid sementara sih domestik dulu ya, karena kami hanya menyiapkan untuk setir kanan dulu,” ujar Nandi.

Meskipun demikian, peluang ekspor tetap terbuka lebar. Pasar yang menggunakan setir kanan, seperti negara-negara di Asia Tenggara, beberapa bagian Afrika, dan Oseania, menjadi target potensial. Nandi bahkan mengakui bahwa permintaan dari negara-negara tujuan ekspor sudah mulai berdatangan dalam jumlah yang signifikan. Permintaan ini menjadi indikasi kuat bahwa produk elektrifikasi Indonesia memiliki daya saing global.

Indonesia Jadi Basis Produksi Hybrid Veloz Pertama

Pengembangan dan produksi Veloz Hybrid ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis. Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memproduksi dan menjual model Veloz dengan teknologi hybrid. Oleh sebab itu, pabrikan sangat berhati-hati dalam menentukan langkah selanjutnya.

Keputusan untuk menahan keran ekspor sementara waktu merupakan bagian dari strategi bisnis yang terukur. Toyota ingin memastikan respons pasar domestik terhadap model ini sebelum melangkah lebih jauh ke pasar internasional. Pengujian di pasar domestik dianggap sebagai barometer penting untuk mengukur kesiapan produk.

“Jadi kita biasanya di Indonesia dulu tiga bulan, tiga bulan untuk studi ekspor,” jelas Nandi. Periode studi selama tiga bulan ini sangat krusial. Dalam kurun waktu tersebut, TMMIN akan mengevaluasi penerimaan konsumen, mengumpulkan data performa, dan memastikan kualitas produksi massal telah mencapai standar ekspor yang ketat.

Veloz Hybrid buatan Indonesia bukan hanya sekadar produk baru, tetapi juga simbol kematangan industri otomotif nasional dalam menghadapi era elektrifikasi. Jika respons pasar domestik terus positif dan studi ekspor menunjukkan hasil yang memuaskan, Veloz Hybrid berpotensi menjadi salah satu tulang punggung ekspor kendaraan elektrifikasi Indonesia di masa depan.

Keberhasilan ekspor model ini akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi global untuk kendaraan berteknologi tinggi. Langkah strategis TMMIN ini menunjukkan optimisme tinggi terhadap kualitas produk lokal yang mampu bersaing di panggung internasional.