VinFast Yakin Pasar Mobil Listrik Tumbuh, Abaikan Perubahan Insentif
Uptodai.com - Di tengah ketidakpastian kebijakan insentif pemerintah, pabrikan otomotif asal Vietnam, VinFast, tetap menunjukkan optimisme tinggi. CEO VinFast Indonesia menyatakan VinFast yakin pasar mobil listrik di Tanah Air masih memiliki peluang besar untuk bertumbuh positif sepanjang tahun ini.
Meskipun demikian, laju pertumbuhan kendaraan berbasis baterai (BEV) diprediksi tidak akan secepat capaian tahun sebelumnya. Perubahan skema insentif menjadi variabel utama yang membuat konsumen dan pelaku industri cenderung menahan diri atau bersikap menunggu kepastian regulasi.
Proyeksi Pertumbuhan Pasar Mobil Listrik Indonesia
Kariyanto Hardjosoemarto, CEO VinFast Indonesia, menjelaskan bahwa sektor BEV memang masih menyimpan potensi besar. Namun, dia mengakui bahwa dinamika kebijakan insentif pasti akan memengaruhi kecepatan ekspansi pasar, terutama jika dibandingkan dengan performa luar biasa tahun lalu.
“Untuk di segmen BEV, saya yakin masih akan bertumbuh di tahun ini, tapi apakah pertumbuhannya setinggi tahun lalu? Menurut saya mungkin tidak, akan pasti slowing down karena misalnya dengan perubahan insentif dan sebagainya,” ujar Kariyanto.
Ia menjelaskan, pertumbuhan pasar mobil listrik pada 2025 ditopang dari berbagai faktor, salah satunya dukungan insentif pemerintah yang masif. Oleh karena itu, pengurangan atau penyesuaian insentif secara langsung akan berdampak pada laju penjualan, meskipun trennya secara fundamental tetap positif.
Kariyanto menyoroti bahwa ketidakjelasan regulasi ini menciptakan kondisi “wait and see” yang merugikan pasar. Meskipun aturan insentif sebelumnya secara teknis berakhir pada Desember 2025, wacana yang terus bergulir di pasar membuat baik dealer maupun konsumen enggan mengambil keputusan cepat sebelum ada kejelasan final dari pemerintah.
Ia menambahkan, pertumbuhan BEV tahun lalu tercatat mencapai 141 persen, sebuah angka yang fantastis. Untuk mempertahankan momentum ini, pasar sangat membutuhkan kepastian kebijakan agar tidak terjebak dalam sikap menunda pembelian, yang pada akhirnya memperlambat adopsi kendaraan listrik secara nasional.
Keunggulan Biaya Operasional Jadi Daya Tarik Utama
Pandangan serupa mengenai prospek industri kendaraan listrik nasional juga disampaikan oleh pengamat ekonomi senior, Josua Pardede. Ia melihat bahwa pangsa pasar BEV terus meningkat signifikan dan kini telah mengukuhkan posisinya di industri otomotif nasional, bahkan mulai menyalip beberapa pemain mobil konvensional.
Josua menjelaskan bahwa kenaikan pangsa pasar ini menunjukkan bahwa mobil listrik sudah mulai memiliki pasar tersendiri. Ini membuktikan bahwa daya tarik BEV tidak hanya bergantung pada subsidi, tetapi juga pada keunggulan fundamental yang ditawarkan.
Menurut Josua, keunggulan utama mobil listrik terletak pada efisiensi biaya operasional dan perawatan yang jauh lebih rendah dibandingkan mobil konvensional. Selain itu, jaminan nilai jual kembali (resale value) yang semakin baik turut menambah daya tarik bagi calon pembeli yang sebelumnya ragu terhadap teknologi baru ini.
Faktor-faktor fundamental ini, seperti penghematan bahan bakar dan minimnya kebutuhan perawatan rutin, menjadi alasan kuat mengapa adopsi mobil listrik akan terus berlanjut. Dengan semakin banyaknya model yang masuk ke pasar dan infrastruktur pengisian daya yang berkembang, pasar mobil listrik diprediksi akan melewati fase perlambatan sementara akibat penyesuaian insentif, dan kembali menunjukkan pertumbuhan yang stabil dalam jangka panjang.