Uptodai.com - Pertarungan geopolitik global kini bergerak cepat menuju penguasaan sumber daya vital yang menjadi tulang punggung teknologi modern. Amerika Satukan Kekuatan Dunia dalam sebuah upaya terkoordinasi untuk meredam dominasi Beijing di sektor mineral kritis.

Langkah ini merupakan respons langsung terhadap kontrol China yang masif atas rantai pasokan bahan baku penting untuk teknologi mutakhir dan industri pertahanan. Washington bertekad menciptakan jaringan pasokan yang stabil dan terlepas dari pengaruh satu negara saja.

Meskipun sempat terjadi ketegangan yang mereda sesaat pasca pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan pada akhir 2025, persaingan struktural kedua negara tetap membara. Kedua negara adidaya tersebut kini secara agresif mencari cara untuk melepaskan ketergantungan satu sama lain, terutama dalam hal teknologi dan bahan baku strategis.

Strategi Washington Melawan Dominasi Mineral China

Rencana ambisius pembentukan blok baru ini secara resmi dibicarakan dalam gelaran ‘Critical Minerals Ministerial’ di Washington pada pekan ini. Pertemuan penting tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 54 negara, termasuk delegasi dari Uni Eropa dan sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Trump.

Setelah serangkaian diskusi intensif, Washington mengumumkan keberhasilan penandatanganan perjanjian bilateral tentang mineral kritis dengan 11 negara baru. Perjanjian ini merupakan kelanjutan dari 10 kesepakatan serupa yang telah diselesaikan dalam lima bulan terakhir, menunjukkan kecepatan diplomasi AS dalam menggalang dukungan.

Tujuan utama dari perjanjian-perjanjian ini sangat jelas: mengatasi tantangan penetapan harga yang sering dimanipulasi dan mendorong pembangunan infrastruktur mineral yang berkelanjutan. Selain itu, aliansi ini berupaya menciptakan pasar yang jauh lebih adil dan memperluas akses ke pembiayaan di sektor mineral kritis bagi negara-negara mitra.

FORGE dan Pax Silica: Senjata Baru AS

Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang bertindak sebagai tuan rumah Pertemuan Menteri tersebut, secara resmi mengumumkan pembentukan ‘Forum on Resource Geostrategic Engagement’ (FORGE) pada Rabu (4/2) waktu setempat. FORGE dirancang sebagai kemitraan strategis untuk mengoordinasikan kebijakan dan proyek mineral kritis di antara negara-negara anggota.

Rubio menekankan bahwa sudah ada sejumlah negara yang menandatangani kesepakatan tersebut, dan Washington berharap lebih banyak lagi yang akan segera melakukan hal serupa. Ia menambahkan, “Tujuan FORGE adalah mendorong kolaborasi erat untuk membangun jaringan mitra yang kuat di seluruh dunia.”

FORGE akan melengkapi upaya sebelumnya antara AS dan sembilan mitra, yang dikenal sebagai ‘Pax Silica’. Jika Pax Silica berfokus spesifik pada pengamanan rantai pasokan yang berkaitan dengan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dan semikonduktor canggih, FORGE memiliki cakupan yang lebih luas.

Fokus utama FORGE adalah mineral-mineral penting yang dibutuhkan mulai dari baterai kendaraan listrik, perangkat komunikasi, hingga peralatan militer. Kemitraan ini secara langsung menargetkan kelemahan AS yang selama ini sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari China.

Ancaman Balasan dan Ketergantungan Timbal Balik

Tarik-ulur perdagangan antara AS dan China selama ini memang bertumpu pada penguasaan teknologi tinggi dan mineral tanah jarang. Ketika AS mendominasi pengembangan chip AI dan melancarkan kebijakan protektif agar Beijing tidak bisa mengaksesnya, China memberikan balasan setimpal.

Sebagai respons, China sempat memberlakukan larangan ekspor mineral tanah jarang yang sangat krusial. Mineral ini sangat vital untuk pengembangan senjata, peralatan militer canggih, dan berbagai teknologi strategis Amerika Serikat, menciptakan tekanan balik yang signifikan.

Meskipun upaya Washington untuk menyatukan kekuatan global ini sangat signifikan, China tidak tinggal diam. Beijing tetap berupaya keras mengembangkan kemampuan mandiri dalam pembuatan chip AI dan memperkuat kontrolnya atas pemrosesan mineral di dalam negeri.

Blok perdagangan yang dipimpin AS ini bertujuan untuk mendiversifikasi sumber pasokan global dan memastikan rantai pasokan yang resilien. Pada akhirnya, strategi global ini diharapkan dapat mematahkan hegemoni China yang telah berlangsung selama puluhan tahun di pasar mineral kritis.