Uptodai.com - Kekhawatiran global memuncak menyusul Berakhirnya Perjanjian New START, pakta pengendalian senjata nuklir terakhir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Peristiwa krusial ini, yang terjadi pada Kamis (5/2/2026), secara efektif menghapus batasan kepemilikan senjata atom yang telah berlaku selama lebih dari setengah abad.

Konsekuensinya, Beijing langsung melontarkan peringatan keras, mendesak Washington dan Moskow agar segera mencari solusi. China melihat situasi ini sebagai ancaman serius yang berpotensi memicu instabilitas strategis di seluruh dunia.

Dunia Kembali ke Era Perlombaan Senjata

Berakhirnya Perjanjian New START menandai sebuah momen bersejarah yang disesalkan oleh banyak pihak. Perjanjian ini merupakan benteng terakhir yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dimiliki oleh AS dan Rusia, dua kekuatan yang menguasai mayoritas persenjataan atom dunia.

Sebelumnya, pakta tersebut membatasi kedua negara untuk memiliki tidak lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan. Hilangnya pembatasan ini membuka pintu lebar bagi perlombaan senjata baru yang sangat berbahaya, mengingatkan pada periode Perang Dingin.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, berakhirnya New START adalah situasi yang sangat disesalkan. Ia menegaskan bahwa perjanjian tersebut memiliki peran sentral dalam menjaga keseimbangan dan stabilitas strategis global.

Suara Keras dari Beijing: Khawatir Tatanan Nuklir Dunia Runtuh

China secara terbuka menyatakan kekhawatiran mendalamnya terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional. Lin Jian menyebut bahwa hilangnya perjanjian ini menimbulkan kekhawatiran luas terhadap tatanan nuklir dunia secara keseluruhan.

Beijing secara spesifik mendorong AS untuk merespons usulan yang diajukan Rusia. Moskow sebelumnya menawarkan perpanjangan pembatasan senjata nuklir selama satu tahun, namun Washington belum memberikan tanggapan resmi atas proposal tersebut.

“China berharap AS akan secara aktif merespons proposal Rusia, mencari solusi yang bertanggung jawab, serta melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia sesegera mungkin,” tegas Lin. Ia menambahkan bahwa harapan ini juga menjadi seruan dari seluruh komunitas internasional.

Reaksi Kremlin dan Masa Depan Kontrol Senjata

Dari Moskow, Kremlin menyampaikan penyesalan serupa atas kegagalan perpanjangan perjanjian tersebut. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Rusia memandang situasi ini secara negatif, meskipun negaranya tetap memegang komitmen pada pendekatan yang bertanggung jawab terhadap stabilitas senjata nuklir.

Peskov menekankan bahwa Federasi Rusia akan berpedoman pada kepentingan nasionalnya dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama terkait konflik di Ukraina yang semakin memperburuk hubungan antara Timur dan Barat.

Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan menyebut bahwa dalam kondisi saat ini, kedua belah pihak tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun yang pernah tertuang dalam konteks New START. Hal ini berarti AS dan Rusia kini bebas sepenuhnya untuk menentukan langkah mereka tanpa terikat ketentuan inti perjanjian tersebut.

Kepemilikan Senjata Atom Terbesar Dunia

Keputusan untuk membiarkan perjanjian ini berakhir menjadi semakin menakutkan mengingat fakta kepemilikan senjata atom kedua negara. AS dan Rusia secara kolektif menguasai sekitar 90% dari total senjata nuklir di seluruh dunia.

Menurut data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), masing-masing negara diperkirakan memiliki lebih dari 5.000 hulu ledak nuklir. Jumlah yang masif ini menjadikan setiap keputusan yang diambil Washington dan Moskow sangat menentukan nasib miliaran manusia.

Dengan runtuhnya pakta terakhir ini, tekanan internasional kini tertuju pada kedua negara adidaya tersebut. Dunia menunggu apakah mereka akan memilih jalur dialog yang bertanggung jawab atau justru kembali terjerumus ke dalam era perlombaan senjata yang tak terkendali.