Uptodai.com - Lanskap kebebasan beragama di Amerika Serikat (AS) semakin menunjukkan keragaman yang mengejutkan. Salah satu fenomena paling unik adalah pengakuan resmi terhadap Satanic Temple Diakui Agama oleh otoritas pajak federal AS, Internal Revenue Service (IRS), pada tahun 2019.

Pengakuan ini secara hukum menempatkan The Satanic Temple (TST) setara dengan gereja, sinagoge, atau masjid, termasuk mendapatkan status bebas pajak. Namun, hal yang paling menarik dari organisasi ini bukanlah status hukumnya, melainkan filosofi dan basis pengikutnya yang didominasi oleh generasi muda urban, terutama milenial dan Gen Z.

Pengakuan Resmi dan Status Hukum TST

The Satanic Temple didirikan pada tahun 2012 oleh dua tokoh yang menggunakan nama samaran, Lucien Greaves dan Malcolm Jarry. Sejak awal, organisasi ini memposisikan diri bukan sebagai komunitas spiritual yang menyembah iblis, melainkan sebagai organisasi keagamaan non-teistik.

Keputusan IRS untuk memberikan status keagamaan resmi pada TST merupakan tonggak penting. Status ini memberikan legitimasi yang kuat bagi TST untuk menantang dominasi agama mayoritas di ruang publik dan politik AS, seringkali dengan argumen kebebasan beragama yang dilindungi konstitusi.

Mereka berbeda secara fundamental dari Church of Satan (Gereja Setan) yang didirikan pada tahun 1960-an. TST lebih fokus pada aktivisme sosial dan politik, menggunakan simbolisme setan secara metaforis untuk mengampanyekan nilai-nilai rasionalitas dan keadilan.

Setan Sebagai Metafora Rasionalitas dan Keadilan

Meskipun namanya mengandung kata “Satanic,” TST secara eksplisit menyatakan bahwa mereka tidak percaya pada sosok Setan sebagai entitas supranatural. Sebaliknya, Setan atau Lucifer digunakan sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang, dogma yang membatasi, dan tirani otoritas.

Filosofi TST didasarkan pada Tujuh Prinsip (Seven Tenets) yang menekankan pada kebajikan, empati, akal sehat, dan kebebasan individu. Prinsip-prinsip ini sering disandingkan dengan nilai-nilai humanisme modern, di mana setiap keputusan harus didasarkan pada bukti ilmiah dan rasionalitas praktis.

Salah satu prinsip utama mereka menegaskan bahwa keyakinan harus sesuai dengan pemahaman ilmiah terbaik dunia. Dengan demikian, TST secara efektif berfungsi sebagai gerakan yang menggunakan kerangka keagamaan untuk mempromosikan sekularisme dan hak-hak sipil.

Mengapa Pengikut Satanic Temple Gen Z Mendominasi?

Data menunjukkan bahwa mayoritas pengikut TST adalah generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor sosiologis dan politik yang berkembang di AS.

Generasi muda saat ini cenderung lebih skeptis terhadap institusi tradisional, termasuk agama terorganisir yang dianggap terlalu dogmatis atau konservatif. TST menawarkan wadah yang unik, memungkinkan mereka untuk aktif dalam isu kebebasan sipil dan politik identitas tanpa harus terikat pada kepercayaan supernatural.

Organisasi ini menarik bagi Gen Z karena secara aktif menentang ketidakadilan sosial dan otoritas tirani, dua isu yang sangat resonan di kalangan anak muda progresif. TST memberikan identitas perlawanan yang kuat melalui simbolisme Setan, yang telah lama menjadi ikon pemberontakan budaya.

Aktivisme Kontroversial Melalui Jalur Hukum

TST dikenal karena memanfaatkan celah hukum kebebasan beragama untuk menantang standar ganda di ruang publik. Ketika sebuah negara bagian AS mengizinkan simbol Kristen (seperti Sepuluh Perintah Tuhan) dipajang di gedung pemerintahan, TST segera menuntut hak yang sama untuk menempatkan patung Baphomet.

Patung Baphomet, sosok kambing bersayap yang ikonik, bukan dipajang untuk pemujaan, melainkan untuk menyoroti prinsip pemisahan gereja dan negara. Jika pemerintah mengizinkan satu agama menampilkan simbolnya, maka semua agama, termasuk TST, harus diizinkan, atau tidak sama sekali.

Langkah mereka yang paling kontroversial adalah klaim bahwa aborsi adalah ritual keagamaan yang dilindungi oleh Tujuh Prinsip TST. Klaim ini digunakan untuk menantang undang-undang pembatasan aborsi yang ketat di beberapa negara bagian AS, menjadikannya pertempuran hukum yang kompleks antara hak reproduksi dan kebebasan beragama.

Dengan strategi aktivisme legal yang cerdas dan dukungan dari Pengikut Satanic Temple Gen Z, TST berhasil mengubah perdebatan kebebasan beragama di AS. Mereka membuktikan bahwa sebuah organisasi dapat diakui secara resmi sebagai agama, bahkan tanpa kepercayaan pada dewa, asalkan mampu mempertahankan kerangka etika dan filosofis yang koheren.