Uptodai.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia 8 persen bukanlah sekadar angka imajiner yang mustahil untuk dicapai oleh pemerintah saat ini. Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, menegaskan bahwa Indonesia memiliki rekam jejak sejarah yang membuktikan kemampuan tersebut. Beliau menyampaikan pandangan optimis ini dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Hotel Kempinski, Jakarta.

Chairul Tanjung, atau yang akrab disapa CT, mengingatkan publik bahwa Indonesia pernah mencatatkan pertumbuhan gemilang pada tahun 1995. Pada periode tersebut, ekonomi nasional berhasil meroket hingga menyentuh angka 8,22 persen. Kunci utamanya terletak pada daya konsumsi masyarakat yang sangat tinggi, yakni tumbuh dua digit mencapai 12,58 persen.

Kondisi masa lalu tersebut sangat kontras jika kita bandingkan dengan realita struktur ekonomi nasional saat ini. Sekarang, tingkat konsumsi masyarakat hanya berada di kisaran 4,98 persen dengan angka investasi sebesar 13,99 persen. Hal inilah yang menyebabkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung tertahan di angka 5,09 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Menganalisis Efisiensi Belanja Pemerintah untuk Target Ekonomi RI 8 Persen

CT menyoroti adanya anomali dalam struktur belanja pemerintah antara masa lalu dan masa kini yang perlu menjadi perhatian serius. Pada tahun 1995, konsumsi pemerintah hanya tercatat sebesar 1,34 persen namun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Sementara saat ini, belanja pemerintah naik menjadi 2,9 persen tetapi pertumbuhan ekonomi justru stagnan di level 5 persen.

Data ini menunjukkan bahwa peningkatan belanja negara belum berbanding lurus dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Indonesia perlu mengevaluasi kembali efektivitas setiap rupiah yang keluar dari kas negara agar lebih produktif. CT menekankan bahwa idealnya Indonesia harus kembali bertumpu pada kekuatan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utama.

Beliau meyakini bahwa dengan mengubah strategi belanja dan memperkuat daya beli, angka 8 persen bukan lagi hal yang sulit. Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang mampu merangsang masyarakat untuk kembali berbelanja secara masif. Selain itu, iklim investasi harus terus diperbaiki guna mendukung terciptanya lapangan kerja baru yang berkualitas.

Strategi Transformasi Industri dalam Rumus Ekonomi Chairul Tanjung

Sektor pertanian saat ini masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar bagi penduduk Indonesia di berbagai daerah. Namun, CT menilai kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih tergolong rendah dan kurang efisien. Penyerapan tenaga kerja dari sektor pertanian tercatat hanya menyumbang sekitar 1 persen terhadap pertumbuhan PDB nasional.

Transformasi menuju sektor industri menjadi langkah krusial yang harus segera dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Jika tenaga kerja beralih dari pertanian ke industri, serapan pertumbuhannya diprediksi bisa meningkat hingga dua kali lipat. Selain itu, perpindahan ini memberikan nilai tambah (added value) yang sangat signifikan, yakni mencapai empat kali lipat.

Potensi yang jauh lebih besar sebenarnya tersimpan pada sektor jasa yang mampu tumbuh hingga empat kali lipat lebih cepat. Bahkan, lompatan tenaga kerja dari sektor pertanian langsung ke sektor jasa bisa memberikan nilai tambah 7 hingga 8 kali lipat. Strategi perpindahan sektor inilah yang dianggap mampu menjadi mesin baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia 8 persen.

Membangun Science Based Economy Lewat Inovasi Teknologi

Langkah konkret untuk mewujudkan visi besar ini adalah dengan mendorong inovasi dan penguasaan teknologi secara masif di segala lini. CT mendorong Indonesia untuk mulai membangun science based economy atau ekonomi yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan sains. Penguasaan teknologi akan menjadi pembeda utama dalam persaingan ekonomi global yang semakin ketat.

Pemerintah dan pelaku usaha harus bersinergi dalam menciptakan ekosistem riset yang mumpuni serta aplikatif bagi industri. Tanpa adanya sentuhan teknologi modern, program hilirisasi industri tidak akan berjalan maksimal dan gagal menghasilkan nilai tinggi. Inovasi inilah yang nantinya akan menjaga keberlanjutan ekonomi nasional dalam jangka panjang dan meningkatkan daya saing global.

Dengan menerapkan rumus ekonomi Chairul Tanjung ini, target ambisius yang dicanangkan pemerintah bukanlah hal yang mustahil. Indonesia memiliki modal sejarah dan sumber daya manusia yang cukup untuk kembali menjadi macan ekonomi di Asia. Fokus pada transformasi struktural dan penguatan teknologi menjadi kunci utama keberhasilan transisi ekonomi menuju Indonesia Emas.