Uptodai.com - Korban perang saudara Sudan kembali berjatuhan setelah serangan udara mematikan menghantam pusat keramaian di wilayah Kordofan Utara. Insiden berdarah ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir. Masyarakat sipil kini berada dalam posisi yang paling rentan di tengah perebutan kekuasaan yang tak kunjung usai.

Kelompok pemantau Emergency Lawyers melaporkan sedikitnya 28 orang tewas seketika dalam serangan yang terjadi pada akhir pekan tersebut. Puluhan warga lainnya mengalami luka-luka serius dan membutuhkan penanganan medis darurat secepatnya. Ledakan hebat terjadi saat masyarakat sedang memadati pasar tradisional di wilayah Sudri untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Tragedi Serangan Drone di Pasar Sudri

Saksi mata menyebutkan bahwa drone menjatuhkan bom tepat di tengah kerumunan pasar yang sedang sangat sibuk. Aksi ini memicu kepanikan luar biasa karena warga tidak memiliki tempat perlindungan yang memadai di sekitar lokasi. Emergency Lawyers menegaskan bahwa penggunaan teknologi militer terhadap area publik merupakan bentuk pengabaian serius terhadap nyawa manusia.

Jumlah korban kemungkinan besar akan terus bertambah seiring dengan kondisi luka-luka yang dialami warga cukup parah. Fasilitas kesehatan di sekitar lokasi kejadian juga sangat terbatas akibat blokade dan kerusakan infrastruktur yang masif. Hal ini memperparah penderitaan warga yang sudah kesulitan mendapatkan akses makanan dan obat-obatan sejak konflik pecah.

Penggunaan drone secara berulang untuk menargetkan kawasan berpenduduk menunjukkan eskalasi perang yang semakin membahayakan sisa-sisa kehidupan warga. Kelompok aktivis mendesak agar kedua pihak yang bertikai segera menghentikan penggunaan senjata udara di zona sipil. Mereka menilai serangan semacam ini hanya akan memperdalam trauma kolektif rakyat Sudan.

Saling Tuding Antara Militer dan Paramiliter

Emergency Lawyers secara terbuka menuding militer Sudan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penggunaan drone dalam serangan tersebut. Mereka mengklaim memiliki bukti kuat mengenai keterlibatan unit udara militer dalam insiden di Kordofan Utara. Namun, pihak militer Sudan segera membantah keras tuduhan tersebut melalui pernyataan resmi kepada media.

Dua pejabat militer senior menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah sengaja menargetkan infrastruktur sipil dalam setiap operasi tempur. Mereka justru menuduh kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang sering melakukan provokasi di kawasan pemukiman warga. Ketidakpastian ini membuat warga sipil terjepit di antara dua kekuatan bersenjata yang saling berseteru tanpa henti.

Kondisi di lapangan semakin sulit diverifikasi secara independen karena akses komunikasi yang sering terputus di wilayah konflik. Para jurnalis dan pemantau internasional menghadapi risiko besar saat mencoba mendekati zona pertempuran di Kordofan. Hal ini membuat laporan mengenai jumlah korban seringkali terlambat sampai ke telinga komunitas internasional.

Eskalasi Konflik dan Ancaman Kelaparan Akut

Konflik bersenjata yang pecah sejak April 2023 ini telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi di Sudan. Selain serangan di pasar, sebuah kendaraan pengungsi di dekat Kota Rahad juga menjadi sasaran serangan udara pekan lalu. Insiden memilukan tersebut menewaskan 24 orang, termasuk delapan anak-anak yang berusaha mencari tempat aman.

Serangan juga mulai menyasar konvoi bantuan milik Program Pangan Dunia (WFP) yang sedang membawa logistik vital bagi warga. Kondisi ini membuat distribusi bantuan kemanusiaan menjadi hampir mustahil untuk dilakukan di wilayah-wilayah zona merah. Jutaan warga Sudan kini terancam kelaparan akut jika kekerasan bersenjata tidak segera dihentikan secara permanen.

Organisasi kesehatan dunia memperingatkan bahwa sistem sanitasi yang hancur dapat memicu wabah penyakit menular di kamp-kamp pengungsian. Tanpa adanya jaminan keamanan, petugas medis tidak dapat menjangkau pasien yang membutuhkan operasi darurat akibat luka tembak atau ledakan. Krisis ini telah berkembang menjadi salah satu bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21.

Desakan Internasional untuk Gencatan Senjata

Komunitas internasional terus mendesak agar militer Sudan dan RSF segera kembali ke meja perundingan tanpa syarat. Penggunaan drone di kawasan padat penduduk menunjukkan kegagalan total dalam melindungi hak-hak dasar warga sipil. Organisasi kemanusiaan global memperingatkan bahwa Sudan sedang menuju ambang kehancuran total sebagai sebuah negara.

Warga sipil sangat berharap adanya zona aman yang bebas dari jangkauan artileri maupun serangan udara jarak jauh. Tanpa adanya intervensi diplomatik yang kuat dan nyata, masa depan negara di Afrika Timur ini tetap dibayangi pertumpahan darah. Dunia kini menanti langkah konkret dari para pemimpin global untuk mengakhiri penderitaan panjang rakyat Sudan.