Uptodai.com - Konflik berkepanjangan di Sudan yang melibatkan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) kini memasuki babak baru yang lebih berbahaya, ditandai dengan Intervensi Mesir di Sudan secara militer langsung. Kairo, yang awalnya hanya memberikan dukungan logistik dan teknis, kini dilaporkan mengerahkan aset tempur paling canggih untuk menekan laju RSF di perbatasan selatan.

Pengerahan kekuatan militer rahasia ini terungkap melalui kesaksian lebih dari selusin pejabat regional dan pakar militer. Keputusan Mesir untuk “turun gunung” ini menggarisbawahi kekhawatiran mendalam Kairo terhadap stabilitas di wilayah perbatasan, terutama setelah RSF mencatat kemajuan signifikan di Darfur.

Perubahan Sikap Kairo dan Jatuhnya Al Fashir

Sebelumnya, Mesir memilih menahan diri dari intervensi militer secara terang-terangan, meskipun pejabat keamanan Mesir secara tertutup mengakui adanya pengiriman bantuan teknis kepada SAF. Namun, situasi berubah drastis setelah RSF, kelompok paramiliter yang dipimpin Mohamed Hamdan Dagalo, berhasil merebut serangkaian wilayah kunci.

Titik balik krusial terjadi pada Oktober lalu, ketika RSF berhasil menguasai kota strategis Al Fashir di Darfur. Kejatuhan Al Fashir tidak hanya memberikan keuntungan teritorial besar bagi RSF, tetapi juga mengirimkan sinyal bahaya serius ke Kairo mengenai potensi runtuhnya otoritas pusat di Khartoum.

Menjaga Garis Merah Keamanan Nasional Mesir

Mesir telah berulang kali memperingatkan bahwa keamanan nasional mereka terikat langsung dengan apa yang terjadi di Sudan. Pada Desember, Kairo menegaskan tidak akan membiarkan “garis merah” mereka dilanggar, termasuk menjaga integritas teritorial Sudan dan menolak keras keberadaan “entitas paralel” yang mengancam persatuan negara tersebut.

Ancaman ini merujuk pada RSF yang kini menguasai sebagian besar wilayah, berpotensi menciptakan kekosongan kekuasaan yang bisa dimanfaatkan kelompok ekstremis atau mengganggu stabilitas perbatasan Mesir. Untuk mengatasi ancaman tersebut, dua pejabat keamanan Mesir mengungkapkan kepada media internasional bahwa dua bandara di selatan telah disuplai dengan peralatan militer selama delapan bulan terakhir.

Peralatan tersebut digunakan untuk mengamankan perbatasan sekaligus melancarkan serangan militer yang terarah demi melindungi kepentingan strategis Kairo. Tindakan ini adalah refleksi dari prinsip yang dipegang teguh oleh Mesir, bahwa mereka berhak melakukan intervensi langsung dan mengelola situasi yang mengancam kedaulatan mereka.

Bukti Satelit dan Pengerahan Drone Bayraktar Akinci

Bukti paling konkret dari keterlibatan militer Mesir adalah penampakan drone tempur canggih di pangkalan udara East Oweinat. Citra satelit yang diambil oleh perusahaan teknologi ruang angkasa AS, Vantor, memperlihatkan keberadaan drone berukuran besar di apron bandara tersebut pada September, Desember, dan Januari.

Dua pakar militer yang menganalisis gambar tersebut mengidentifikasi pesawat tanpa awak itu sebagai Bayraktar Akinci. Akinci adalah drone tempur paling canggih yang diproduksi oleh perusahaan Turki, Baykar. Pesawat ini dikenal karena kemampuannya terbang hingga 24 jam non-stop dan membawa beragam jenis amunisi presisi.

Bayraktar Akinci: Senjata Rahasia dari Turki

Penggunaan Bayraktar Akinci oleh Mesir menunjukkan adanya kerja sama strategis yang mendalam dengan Turki dalam menghadapi konflik Sudan. Data pelacakan penerbangan dari FlightRadar24 semakin memperkuat dugaan ini, di mana lima dari enam penerbangan kargo yang tercatat menuju East Oweinat sejak September berasal dari Turki.

Salah satu penerbangan tersebut menggunakan pesawat kargo Angkatan Udara Turki yang berangkat dari Tekirdag, lokasi yang dikenal sebagai fasilitas pengujian utama untuk Akinci. Seorang diplomat Barat mengonfirmasi bahwa pejabat Turki secara pribadi membela serangan udara Mesir terhadap RSF sebagai langkah yang sah, sekaligus mengonfirmasi pengiriman drone tersebut baru-baru ini.

Samir Farag, seorang pensiunan perwira militer Mesir, menekankan pentingnya pangkalan East Oweinat bagi Kairo. Ia menyatakan bahwa Mesir tidak akan pernah mengizinkan entitas asing hadir di perbatasannya dan mengancam keamanan nasional. Oleh karena itu, pengerahan Drone Bayraktar Akinci Sudan merupakan langkah proaktif yang tak terhindarkan untuk mengelola krisis.

Keterlibatan langsung Mesir, melalui pengerahan teknologi drone tempur mutakhir, menandai eskalasi signifikan dalam Perang Saudara Sudan. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara regional kini siap mengambil tindakan tegas untuk melindungi kepentingan mereka, bahkan jika itu berarti melanggar batas non-intervensi tradisional.