Perjuangan Vior Menjadi Ibu: Alami Baby Blues dan Puting Berdarah
Uptodai.com - Perjuangan Vior menjadi ibu baru ternyata penuh dengan tantangan emosional yang menguras air mata serta energi fisik secara drastis.
Viorenita Sutanto, yang selama ini dikenal publik dengan citra ceria dan lugu, kini harus berhadapan dengan realitas keras di balik kebahagiaan memiliki buah hati. Mantan brand ambassador ONIC Esports ini membagikan kisah menyentuh mengenai drama minggu-minggu pertamanya merawat sang bayi pasca melahirkan.
Vior resmi menikah dengan pebasket profesional Vincent Rivaldi Kosasih pada 7 Desember 2024 lalu. Namun, transisi menjadi seorang orang tua ternyata memberikan tekanan mental yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, terutama terkait proses menyusui.
Gejala Baby Blues Vior dan Ketakutan Menggendong Bayi
Vior mengaku sempat mengalami fase baby blues yang cukup parah pada dua minggu pertama setelah persalinan. Rasa cemas yang berlebihan membuat perempuan kelahiran 26 Juli 1999 ini merasa tidak berdaya saat menghadapi tangisan sang buah hati.
Ketakutan tersebut bahkan membuatnya tidak berani menyentuh atau menggendong anaknya sendiri dalam kurun waktu yang cukup lama. Vior hanya sanggup memandangi bayinya dari kejauhan karena merasa trauma setiap kali mendengar suara tangisan yang pecah.
Ia merasa bahwa setiap kali dirinya memegang sang bayi, tangisan tersebut akan muncul sebagai pertanda bahwa sang anak membutuhkan asupan ASI. Hal inilah yang kemudian memicu stres berat karena Vior belum siap secara mental menghadapi rasa sakit saat proses menyusui.
Drama Vior Menyusui Bayi Hingga Puting Berdarah
Masalah fisik juga menjadi beban berat dalam perjuangan Vior menjadi ibu, di mana ia mengalami luka fisik yang cukup menyakitkan. Vior mengungkapkan bahwa puting susunya sempat berdarah akibat isapan bayi yang sangat kuat saat proses pelekatan.
Meskipun ia sudah berusaha mengikuti teknik pelekatan yang benar, rasa perih yang luar biasa tetap tidak terhindarkan. Kondisi fisik yang terluka ini menciptakan trauma mendalam yang membuatnya selalu waswas setiap kali jadwal menyusui tiba.
Bagi Vior, suara tangisan bayi di tengah malam bagaikan alarm menakutkan yang memaksanya untuk menyiapkan mental secepat mungkin. Ia sering kali merasa berpacu dengan waktu agar bayinya tidak menangis terlalu lama, meski dirinya sendiri sedang menahan rasa sakit.
Dukungan Keluarga dalam Menghadapi Masa Kritis
Beruntung, Vior tidak melewati masa-masa sulit ini sendirian karena dukungan penuh dari lingkungan keluarga terdekatnya. Peran ibu mertua menjadi kunci utama yang membantu Vior bangkit dari keterpurukan mental dan rasa trauma tersebut.
Bimbingan yang sabar dari sang mertua perlahan-lahan memberikan rasa percaya diri bagi Vior untuk kembali mencoba menyusui dan menggendong bayinya. Perlahan namun pasti, ia mulai bisa menyesuaikan diri dengan ritme baru sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab penuh.
Kini, Vior mulai terbiasa dengan rutinitas barunya dan berhasil melewati fase kritis yang sempat membuatnya kehilangan banyak waktu tidur. Kisahnya ini pun viral di media sosial dan memicu simpati serta dukungan dari banyak warganet yang pernah merasakan pengalaman serupa.