Uptodai.com - Tren Gen Z pakai iPod lama kini sedang menjadi fenomena unik di tengah dominasi ponsel pintar yang serba canggih. Banyak anak muda mulai mencari kembali perangkat pemutar musik rilisan awal 2000-an tersebut untuk menemani aktivitas harian mereka. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes terhadap ketergantungan berlebih pada koneksi internet yang sering kali melelahkan mental.

Musisi Kat Burns menjadi salah satu sosok yang memicu kembali perbincangan hangat mengenai perangkat ikonik buatan Apple ini. Ia mengunggah momen saat menyalakan kembali iPod miliknya yang penuh dengan daftar lagu kenangan masa sekolah. Burns merasa proses memindahkan lagu dari kepingan CD ke iTunes memberikan kepuasan tersendiri yang tidak ia temukan pada aplikasi streaming modern.

Gerakan Kembali ke Musik Lambat di Tahun 2026

Melalui unggahan di media sosial, Burns mempertanyakan apakah tahun 2026 akan menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali menikmati musik secara lambat. Fenomena ini ternyata mendapat sambutan luar biasa dari warganet yang juga merindukan kesederhanaan teknologi masa lalu. Tagar iPod di platform Instagram bahkan telah menembus angka 1,8 juta unggahan hingga saat ini.

Tidak hanya di Instagram, platform YouTube juga kini dibanjiri oleh berbagai video tutorial mengenai cara menghidupkan kembali perangkat pemutar musik lama. Banyak pengguna membagikan tips untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan atau mengganti baterai agar iPod bisa berfungsi optimal kembali. Antusiasme ini membuktikan bahwa minat terhadap teknologi retro bukan sekadar tren sesaat, melainkan kebutuhan akan privasi.

Menghindari Algoritma dan Gangguan Notifikasi

Penasihat produk teknologi musik, Emily White, menilai kebangkitan iPod menawarkan solusi praktis bagi mereka yang merasa kewalahan dengan dunia maya. Perangkat ini memberikan kebebasan karena tidak memiliki koneksi Wi-Fi, algoritma pencarian, maupun iklan yang mengganggu. Pengguna bisa benar-benar fokus mendengarkan musik tanpa interupsi notifikasi pesan masuk yang terus-menerus muncul.

White menambahkan bahwa iPod berfungsi layaknya obat penenang di tengah kehidupan yang terlalu bergantung pada internet. Tanpa adanya algoritma yang mengatur selera, pendengar memiliki kendali penuh atas daftar lagu yang ingin mereka nikmati secara personal. Hal ini menciptakan pengalaman mendengarkan musik yang lebih intim dan jauh dari gangguan distraksi digital.

Kualitas Audio yang Lebih Superior

Selain faktor kesehatan mental, kualitas suara menjadi alasan kuat mengapa banyak orang kembali melirik perangkat khusus pemutar musik. Michael Rosenberg, pemilik toko perbaikan Apple iRepair, menjelaskan bahwa komponen internal iPod memang dirancang spesifik untuk menghasilkan audio berkualitas tinggi. Suara yang dihasilkan terdengar jauh lebih jernih dan bertenaga, terutama saat pengguna menggunakan headphone berkabel.

Rosenberg menceritakan pengalaman unik ketika seorang remaja perempuan berusia 14 tahun mendatangi tokonya untuk memperbaiki sebuah iPod lama. Fenomena ini menunjukkan bahwa daya tarik perangkat klasik tersebut sudah merambah ke generasi yang bahkan belum lahir saat iPod pertama kali diluncurkan. Mereka mencari otentisitas dan kualitas suara murni di tengah gempuran teknologi digital yang serba instan.

Kecenderungan ini juga didukung oleh keinginan untuk memiliki barang fisik di era yang serba digital dan abstrak. Memegang perangkat pemutar musik yang nyata memberikan sensasi kepemilikan yang lebih kuat dibandingkan sekadar berlangganan aplikasi. Tren ini diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya detoks digital bagi kesehatan jiwa.