Penemuan Masjid Kuno di Israel Ungkap Bukti Toleransi Islam Awal
Uptodai.com - Penemuan masjid kuno di Israel baru-baru ini memberikan perspektif baru yang mengejutkan bagi dunia arkeologi internasional. Bangunan bersejarah yang terletak di kota Tiberias tersebut diperkirakan berasal dari masa awal perkembangan Islam di wilayah tersebut. Para ahli meyakini bahwa situs ini menyimpan bukti kuat mengenai pola interaksi sosial di masa lalu.
Tim arkeolog dari Hebrew University berhasil mengidentifikasi sisa-sisa bangunan tersebut sebagai salah satu masjid tertua yang pernah digali secara utuh. Berbeda dengan situs serupa yang biasanya tertutup bangunan baru atau masih digunakan, masjid ini memberikan akses penelitian yang sangat luas. Penemuan ini sekaligus menjadi jendela untuk memahami struktur pemerintahan Islam pada abad ke-7 Masehi.
Jejak Arkeologi Islam Awal di Tiberias
Katia Cytryn-Silverman, seorang spesialis arkeologi Islam, menjelaskan bahwa periode pembangunan masjid ini sejajar dengan beberapa masjid ikonik dunia. Struktur tersebut dibangun pada era yang sama dengan Masjid Nabawi di Madinah, Masjid Agung Damaskus, dan Masjid Al-Aqsa. Keberadaannya membuktikan bahwa Tiberias merupakan pusat penting pada masa kekhalifahan awal.
Laporan dari Times of Israel menyebutkan bahwa aktivitas penggalian di sekitar Tiberias sebenarnya telah berlangsung selama hampir satu abad. Namun, penelitian terbaru yang dipimpin oleh Cytryn-Silverman memberikan sudut pandang yang jauh lebih mendalam. Sebelumnya, pada penggalian tahun 1950, para peneliti sempat salah mengira bangunan ini sebagai pasar peninggalan Bizantium.
Cytryn-Silverman memutuskan untuk melakukan penelitian lebih jauh hingga ke lapisan bawah lantai bangunan tersebut. Langkah ini terbukti membuahkan hasil yang signifikan bagi ilmu pengetahuan sejarah. Ia menemukan berbagai artefak kunci yang membantu menentukan usia pasti dari struktur bangunan kuno tersebut.
Penentuan Usia Melalui Koin dan Keramik
Para peneliti berhasil menentukan bahwa masjid ini dibangun antara tahun 660 hingga 680 Masehi. Penentuan usia ini didasarkan pada temuan koin-koin kuno dan fragmen keramik yang tertanam di dasar fondasi bangunan. Data ini menempatkan masjid Tiberias sebagai salah satu bukti fisik tertua dari kehadiran Islam di wilayah tersebut.
Secara arsitektural, bangunan ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan masjid-masjid besar pada periode yang sama. Tim ahli menemukan denah lantai berpilar yang luas serta penempatan qibla yang akurat. Dimensi bangunan yang ditemukan juga menunjukkan bahwa masjid ini mampu menampung jamaah dalam jumlah yang cukup besar.
Bukti Nyata Toleransi Beragama
Hal yang paling menarik dari penemuan masjid kuno di Israel ini adalah lokasinya yang berdampingan dengan rumah ibadah lain. Masjid tersebut berdiri tepat di sebelah sinagoge dan gereja peninggalan masa Bizantium. Fenomena ini menunjukkan adanya koeksistensi yang harmonis antara umat beragama pada masa itu.
Cytryn-Silverman menekankan bahwa awal pemerintahan Islam di wilayah tersebut menunjukkan sikap hormat yang luar biasa terhadap penduduk asli. Penguasa Muslim saat itu tidak memaksakan kehendak mereka secara drastis kepada mayoritas penduduk kota. Saat itu, Tiberias masih didominasi oleh komunitas Kristen, Yahudi, dan Samaria.
Pemerintahan Islam awal cenderung menyesuaikan diri dengan tatanan masyarakat yang sudah ada sebelumnya. Mereka tidak terburu-buru menghancurkan simbol-simbol agama lain untuk menunjukkan kekuasaan. Sebaliknya, mereka membangun identitas baru tanpa harus melenyapkan jejak sejarah penduduk yang mereka pimpin.
Keberadaan masjid ini menjadi bukti otentik bahwa integrasi budaya dan agama pernah terjadi secara damai di Timur Tengah. Penemuan ini diharapkan dapat memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya toleransi di tengah keberagaman. Arkeologi Islam kini memiliki bukti fisik yang semakin memperkaya narasi sejarah dunia.