Uptodai.com - Kualitas produk kesehatan nasional kini memasuki babak baru setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi meraih status WHO Listed Authority (WLA). Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian bersejarah yang diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia tersebut. Menurutnya, pengakuan internasional ini menjadi bukti nyata bahwa standar kesehatan Indonesia sudah sejajar dengan pemain global.

Status WLA ini bukan sekadar label formalitas, melainkan jaminan bahwa sistem pengawasan obat di Indonesia telah memenuhi standar ketat internasional. Shadiq menegaskan bahwa pencapaian ini akan membawa dampak signifikan bagi seluruh pelaku industri farmasi dalam negeri. Ke depannya, produk-produk buatan anak bangsa akan lebih mudah menembus pasar mancanegara tanpa hambatan birokrasi yang terlalu rumit.

Langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan global yang semakin kompetitif. Dengan adanya pengakuan dari WHO, kepercayaan negara lain terhadap keamanan dan efikasi produk farmasi asal Indonesia akan meningkat pesat. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri kesehatan di tanah air.

Akselerasi Ekspor Produk Farmasi Indonesia

Selama ini, sebagian besar produk unggulan Bio Farma sebenarnya telah mengantongi standar Prequalification WHO (PQ-WHO). Namun, keberadaan status WLA BPOM ini akan menjadi katalisator atau percepatan yang luar biasa bagi pengembangan bisnis ke depan. Shadiq menjelaskan bahwa produk-produk baru yang sedang dikembangkan kini memiliki jalur ekspor yang jauh lebih terbuka lebar.

Proses administrasi untuk menembus pasar global nantinya akan berjalan jauh lebih efisien dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Para pelaku usaha farmasi kini hanya perlu menyiapkan dokumen-dokumen tertentu yang menjadi syarat penilaian otoritas kesehatan dunia. Kemudahan ini diharapkan mampu memangkas waktu tunggu produk Indonesia untuk bisa digunakan oleh masyarakat internasional.

Meskipun prosesnya menjadi lebih simpel, standar pengawasan tetap terjaga dengan sangat ketat. WHO tetap akan melakukan beberapa inspeksi langsung secara berkala untuk memastikan konsistensi kualitas di lapangan. Sinergi antara regulator dan pelaku usaha menjadi kunci utama agar status bergengsi ini tetap bertahan dalam jangka panjang.

Membangun Kemandirian Kesehatan Nasional

Dampak positif dari status WLA ini tidak hanya dirasakan oleh Bio Farma sebagai perusahaan pelat merah di bidang farmasi. Seluruh ekosistem industri kesehatan di Indonesia diharapkan ikut naik kelas dan menjadi lebih kompetitif di kancah global. Shadiq optimis bahwa kemudahan akses pasar luar negeri akan memacu inovasi riset di tingkat lokal secara masif.

Salah satu visi besar yang ingin dicapai melalui momentum ini adalah kemandirian kesehatan nasional yang lebih kokoh. Saat ini, industri farmasi Indonesia masih menghadapi tantangan besar berupa ketergantungan pada bahan baku impor yang cukup tinggi. Kehadiran status WLA diharapkan mampu memacu industri untuk memproduksi bahan baku obat sendiri secara mandiri di dalam negeri.

Shadiq meyakini bahwa cita-cita untuk tidak lagi bergantung pada pasokan luar negeri sangat mungkin terwujud dalam waktu dekat. Dengan pengakuan standar produk farmasi Indonesia di level dunia, daya tarik investasi di sektor kesehatan juga akan semakin meningkat. Indonesia kini memiliki modal kuat untuk menjadi pusat produksi farmasi terkemuka di kawasan regional maupun global.