Uptodai.com - Aksi penolakan teknologi AI untuk senjata kini tengah mengguncang industri teknologi di Amerika Serikat setelah serangan militer ke Iran baru-baru ini. Ratusan karyawan dari raksasa teknologi global secara terbuka menyatakan keberatan mereka terhadap keterlibatan perusahaan dalam proyek pertahanan. Mereka khawatir kecerdasan buatan akan disalahgunakan untuk menciptakan alat pembunuh otomatis yang sulit dikendalikan.

Gelombang protes ini muncul melalui sebuah surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon. Sebanyak hampir 900 tanda tangan telah terkumpul sebagai bentuk solidaritas antarpekerja teknologi lintas perusahaan. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 tanda tangan berasal dari karyawan OpenAI dan hampir 800 lainnya merupakan staf Google.

Para karyawan ini menyuarakan kekhawatiran yang sama dengan Anthropic, sebuah perusahaan AI yang sebelumnya telah masuk daftar hitam Pentagon. Anthropic secara tegas menolak alat buatannya digunakan untuk memata-matai masyarakat atau mengembangkan senjata otonom. Langkah berani ini kemudian memicu kesadaran kolektif di kalangan pekerja teknologi lainnya untuk mengambil sikap serupa.

Solidaritas Pekerja Menghadapi Tekanan Pentagon

Surat terbuka tersebut mengungkapkan bahwa pemerintah mencoba memecah belah posisi setiap perusahaan teknologi agar mereka bersedia menyerah pada tuntutan militer. Para pekerja merasa strategi ini hanya akan berhasil jika setiap perusahaan tidak mengetahui posisi etis satu sama lain. Oleh karena itu, surat ini bertujuan untuk menciptakan pemahaman bersama dan memperkuat solidaritas di hadapan Departemen Pertahanan.

Ketegangan ini sebenarnya sudah memuncak selama beberapa bulan terakhir akibat meningkatnya agresivitas agen imigrasi federal di Amerika Serikat. Salah satu pemicunya adalah insiden tragis yang menewaskan dua warga negara AS di Minnesota pada awal tahun ini. Kejadian tersebut memperburuk kepercayaan publik dan pekerja teknologi terhadap penggunaan data untuk pengawasan massal.

Laporan mengenai negosiasi rahasia antara Google dan Pentagon juga semakin memperkeruh suasana di internal perusahaan. Kabarnya, kedua belah pihak sedang membicarakan integrasi AI Gemini ke dalam sistem rahasia militer yang sangat sensitif. Informasi ini memicu reaksi negatif dari para insinyur yang tidak ingin karya mereka digunakan untuk tujuan kekerasan.

Tuntutan Transparansi Kontrak Militer

Koalisi “No Tech for Apartheid” turut merilis pernyataan keras yang mendesak Amazon, Google, dan Microsoft untuk menolak semua tuntutan Pentagon. Mereka menekankan bahwa ketiga raksasa teknologi tersebut harus berani berkata tidak pada proyek pengawasan massal. Kelompok ini juga menuntut kejelasan mengenai kontrak militer dengan lembaga penegak hukum lainnya.

Instansi seperti Departemen Keamanan Dalam Negeri serta lembaga Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai menjadi sorotan utama dalam tuntutan tersebut. Para aktivis dan karyawan menginginkan transparansi penuh mengenai bagaimana teknologi komputasi awan mereka digunakan oleh pemerintah. Mereka tidak ingin teknologi sipil berakhir menjadi instrumen penindasan di tangan otoritas keamanan.

Kekhawatiran lain muncul terkait potensi penggunaan model AI seperti Grok milik xAI di lingkungan rahasia tanpa pengamanan yang memadai. Para ahli memperingatkan bahwa penggunaan teknologi canggih tanpa regulasi etis yang ketat sangat berbahaya bagi kemanusiaan. Hal ini menjadi alasan kuat mengapa para karyawan tetap bersikeras melakukan penolakan teknologi AI untuk senjata meski harus berhadapan dengan kepentingan negara.