Sejarah Hari Perempuan Sedunia: Jejak Perjuangan Selama Satu Abad
Uptodai.com - Sejarah Hari Perempuan Sedunia bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah pengingat atas perjuangan panjang kaum perempuan dalam menuntut keadilan. Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan berbagai capaian yang telah diraih sekaligus memperkuat langkah nyata menuju kesetaraan yang hakiki. Isu kesetaraan gender kini menjadi salah satu pilar utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, pada Januari 2025 kembali menegaskan urgensi perlawanan terhadap ketimpangan global. Ia menyerukan agar dunia memperluas peluang bagi perempuan dan anak perempuan di segala sektor kehidupan. Peringatan ini memegang peranan krusial dalam mengubah tatanan sosial yang selama ini sering kali membatasi ruang gerak perempuan. Melansir dari berbagai sumber sejarah, akar gerakan ini ternyata sudah tertanam sejak lebih dari satu abad yang lalu.
Awal Mula Gerakan di Amerika Serikat dan Eropa
Gerakan ini bermula dari keresahan para buruh perempuan di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. National Women’s Day pertama kali diperingati pada Februari 1909 di New York sebagai bentuk protes terhadap kondisi kerja yang tidak manusiawi. Para aktivis menuntut jam kerja yang lebih pendek, upah yang lebih layak, serta hak untuk memberikan suara dalam pemilu. Aksi ini kemudian memicu gelombang solidaritas yang lebih luas di berbagai belahan dunia lainnya.
Setahun berselang, sebuah konferensi internasional untuk perempuan pekerja berlangsung di Kopenhagen, Denmark. Aktivis hak perempuan asal Jerman, Clara Zetkin, mengusulkan adanya hari internasional khusus untuk memperjuangkan hak-hak perempuan secara serentak di seluruh dunia. Peserta konferensi yang berasal dari 17 negara menyetujui gagasan tersebut dengan suara bulat. Inisiatif ini menandai lahirnya gerakan global yang terorganisir untuk menuntut kesetaraan hak sipil dan politik.
Penetapan Tanggal 8 Maret Secara Resmi
International Women’s Day pertama kali diperingati secara resmi pada Maret 1911 di beberapa negara Eropa seperti Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss. Namun, penetapan tanggal 8 Maret baru dilakukan secara konsisten sejak tahun 1913. Tanggal ini dipilih untuk mengenang aksi mogok kerja para buruh tekstil perempuan di Rusia yang menjadi pemicu awal revolusi di negara tersebut. Sejak saat itu, 8 Maret menjadi simbol perlawanan perempuan terhadap penindasan.
Pada 8 Maret 1914, sebuah pawai besar untuk menuntut hak pilih perempuan digelar di London, Inggris. Aktivis ternama Sylvia Pankhurst bahkan harus mendekam di penjara akibat keterlibatannya dalam aksi massa tersebut. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan sering kali harus berhadapan dengan represi otoritas keamanan. Meski demikian, semangat para aktivis tidak pernah padam dan justru semakin menguat di tingkat internasional.
Peran PBB dan Pengakuan Global
PBB mulai merayakan Hari Perempuan Sedunia secara resmi pada tahun 1975 yang juga ditetapkan sebagai Tahun Perempuan Internasional. Langkah ini memberikan legitimasi hukum dan politik yang lebih kuat bagi gerakan perempuan di seluruh dunia. Pada tahun 1996, PBB mulai menetapkan tema tahunan pertama dengan tajuk “Merayakan Masa Lalu, Merencanakan Masa Depan”. Tema ini bertujuan untuk menyelaraskan visi perjuangan perempuan di berbagai negara.
Saat peringatan seratus tahun pada 2011, Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, memberikan penghormatan khusus. Ia menetapkan bulan Maret sebagai Women’s History Month untuk menghargai kontribusi luar biasa perempuan dalam sejarah bangsa. Obama menegaskan bahwa masyarakat yang adil hanya bisa terwujud jika perempuan memiliki akses penuh terhadap kesempatan ekonomi dan pendidikan. Menurutnya, kesejahteraan sebuah negara sangat bergantung pada bagaimana mereka memperlakukan kaum perempuan.
Realita Kesetaraan Gender di Era Modern
Meskipun sejarah mencatat banyak kemajuan, realita saat ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju kesetaraan penuh masih sangat jauh. Laporan Gender Snapshot 2024 dari UN Women mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa belum ada satu pun indikator SDGs tentang kesetaraan gender yang tercapai sepenuhnya. Meskipun angka kemiskinan ekstrem pada perempuan mulai menurun di bawah 10 persen, tantangan struktural masih tetap ada. Dunia masih menghadapi kesenjangan upah dan minimnya representasi perempuan di posisi strategis.
Data dari World Economic Forum dalam laporan Global Gender Gap 2024 juga menunjukkan bahwa perubahan signifikan berjalan sangat lambat. Para ahli memprediksi bahwa dunia membutuhkan waktu sekitar 137 tahun lagi untuk benar-benar menghapus kemiskinan ekstrem di kalangan perempuan. Angka ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk tidak berhenti berjuang. Sejarah Hari Perempuan Sedunia mengajarkan kita bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk bersuara dan bertindak.