Uptodai.com - Cadangan minyak darurat Amerika Serikat resmi dikuras sebanyak 172 juta barel guna meredam gejolak pasar energi global yang kian memanas. Presiden Donald Trump mengambil langkah berani ini sebagai respons langsung atas gangguan pasokan minyak mentah akibat eskalasi perang di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran.

Kebijakan strategis tersebut bertujuan untuk menekan lonjakan harga bahan bakar yang mulai membebani ekonomi domestik Negeri Paman Sam. Pemerintah memproyeksikan pelepasan stok dalam skala besar ini mampu menyeimbangkan permintaan pasar yang sempat limbung dalam beberapa pekan terakhir.

Intervensi Pasar di Tengah Krisis Global

Wright, perwakilan resmi pemerintah, menjelaskan bahwa proses distribusi ratusan juta barel minyak tersebut akan segera dimulai pada pekan depan. Namun, otoritas terkait membutuhkan waktu setidaknya 120 hari untuk menuntaskan seluruh proses pengiriman hingga benar-benar terserap oleh pasar.

Langkah ini merupakan bagian integral dari aksi kolektif yang diprakarsai oleh International Energy Agency (IEA) bersama puluhan negara mitra lainnya. Koordinasi global tersebut melibatkan kekuatan ekonomi besar dari wilayah Eropa, Amerika Utara, hingga Asia Timur Laut untuk menjaga stabilitas energi dunia.

AS sendiri merupakan anggota aktif IEA yang berkomitmen menjaga ketahanan energi bersama lebih dari 30 negara lainnya. Wright menegaskan bahwa pelepasan cadangan ini adalah upaya luas untuk mencegah krisis energi yang lebih dalam akibat ketegangan geopolitik.

Dampak Perang Iran terhadap Harga Bensin

Data terbaru dari kelompok pengendara AAA menunjukkan bahwa harga bensin di Amerika telah menyentuh angka rata-rata US$ 3,58 atau sekitar Rp 60.502 per galon. Angka ini mencerminkan kenaikan drastis sekitar 22 persen hanya dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Sebelumnya, konsumen hanya perlu merogoh kocek sebesar US$ 2,94 untuk jumlah bahan bakar yang sama sebelum konflik pecah. Gangguan masif pada jalur distribusi minyak akibat perang Iran menjadi pemicu utama meroketnya biaya operasional kendaraan warga Amerika.

Kondisi ini memaksa pemerintah untuk melakukan intervensi cepat agar inflasi energi tidak merembet ke sektor ekonomi lainnya. Trump meyakini bahwa dengan menambah pasokan ke pasar, harga eceran di stasiun pengisian bahan bakar akan segera melandai.

Komitmen Trump Mengisi Kembali Stok Nasional

Dalam sebuah wawancara dengan penyiar WKRC di Cincinnati, Donald Trump menegaskan bahwa penggunaan cadangan darurat adalah solusi jangka pendek yang paling efektif. Ia berjanji akan segera mengisi kembali stok nasional setelah kondisi pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabil.

Trump mengklaim memiliki rekam jejak yang mumpuni dalam mengelola Strategic Petroleum Reserve (SPR) selama masa kepemimpinannya yang lalu. Meskipun sempat mengkritik kebijakan serupa di era Joe Biden, ia kini merasa intervensi langsung sangat mendesak untuk menyelamatkan daya beli rakyat.

Saat ini, Amerika Serikat masih mengantongi sekitar 415 juta barel minyak dalam gudang cadangan strategis mereka. Jumlah tersebut setara dengan 58 persen dari total kapasitas resmi nasional yang mencapai angka 714 juta barel.

Pemerintah menargetkan pengadaan kembali sebanyak 200 juta barel dalam satu tahun ke depan untuk mengembalikan stok ke level aman. Wright menekankan bahwa rencana ambisius ini akan dilaksanakan secara taktis tanpa memberikan beban tambahan bagi para pembayar pajak.