Uptodai.com - PHK massal Meta Facebook kembali membayangi raksasa teknologi tersebut di tengah ambisi besar sang CEO, Mark Zuckerberg, untuk menguasai sektor kecerdasan buatan. Perusahaan induk Facebook ini kabarnya tengah menyiapkan langkah efisiensi drastis guna mendanai pengembangan teknologi masa depan tersebut. Langkah ini memicu kekhawatiran baru di kalangan karyawan setelah serangkaian pemangkasan pada tahun-tahun sebelumnya.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Meta berencana memangkas jumlah staf hingga mencapai 20 persen dari total tenaga kerja saat ini. Angka tersebut tergolong sangat signifikan mengingat Meta baru saja melewati fase restrukturisasi besar pada periode 2022 hingga 2023. Meskipun tanggal pastinya belum terungkap, sinyal mengenai pengurangan ini sudah mulai dirasakan di lingkungan internal perusahaan.

Dampak Ambisi Kecerdasan Buatan Mark Zuckerberg

Rencana pengurangan karyawan ini muncul sebagai strategi perusahaan untuk mengimbangi biaya infrastruktur AI yang membengkak. Mark Zuckerberg secara agresif mengalihkan fokus Meta dari media sosial konvensional menuju pengembangan AI generatif yang lebih canggih. Perusahaan membutuhkan dana segar yang sangat besar untuk membangun pusat data dan membeli perangkat keras pendukung.

Pihak manajemen Meta dilaporkan telah memberikan instruksi khusus kepada para pemimpin senior untuk mulai merancang skema pengurangan jumlah anggota tim. Para petinggi perusahaan kini dituntut untuk melakukan efisiensi kerja dengan bantuan alat kecerdasan buatan yang sedang mereka kembangkan sendiri. Hal ini menciptakan ironi di mana teknologi yang mereka ciptakan justru berpotensi menggantikan posisi para pekerjanya.

Sejarah Kelam Tahun Efisiensi Meta

Jika rencana ini terealisasi, maka ini akan menjadi gelombang pemutusan hubungan kerja terbesar sejak kebijakan “Tahun Efisiensi” yang dicanangkan Zuckerberg. Pada November 2022, Meta telah merumahkan sekitar 11 ribu pegawai atau setara dengan 13 persen dari total staf mereka. Tak berhenti di situ, empat bulan berselang, perusahaan kembali memangkas 10 ribu pekerja lainnya.

Rentetan PHK tersebut awalnya dianggap sebagai langkah stabilisasi pasca-pandemi, namun kini polanya terlihat lebih struktural. Meta tampaknya sedang bertransformasi menjadi organisasi yang lebih ramping namun sangat padat modal di sektor teknologi. Pergeseran prioritas ini memaksa perusahaan untuk terus menekan biaya operasional rutin demi memenangkan persaingan di ranah superintelijen.

Investasi Fantastis untuk Infrastruktur AI

Besarnya potensi PHK massal Meta Facebook ini sebanding dengan nilai investasi yang mereka gelontorkan untuk teknologi masa depan. Meta dikabarkan telah menyiapkan dana fantastis mencapai US$600 miliar atau setara Rp10.000 triliun hingga tahun 2028 mendatang. Dana tersebut akan dialokasikan khusus untuk membangun pusat daya dan infrastruktur komputasi yang masif.

Selain infrastruktur fisik, Zuckerberg juga tidak ragu mengeluarkan dana besar untuk mengakuisisi perusahaan rintisan potensial. Salah satu langkah terbarunya adalah pembelian startup AI asal China bernama Manus senilai US$2 miliar. Strategi “bakar uang” ini memaksa Meta untuk terus mencari celah penghematan di sektor sumber daya manusia.

Zuckerberg juga sangat royal dalam merekrut talenta-talenta terbaik di bidang kecerdasan buatan dari perusahaan kompetitor. Meta berani menawarkan paket gaji hingga ratusan juta dolar selama empat tahun untuk menarik minat para ahli AI top dunia. Ketimpangan pengeluaran ini semakin memperkuat dugaan bahwa efisiensi karyawan di divisi non-inti akan terus berlanjut.

Tanggapan Resmi Pihak Meta

Menanggapi kabar yang beredar luas ini, juru bicara Meta, Andy Stone, akhirnya memberikan pernyataan resmi kepada publik. Ia menegaskan bahwa laporan mengenai rencana pemangkasan karyawan sebesar 20 persen tersebut bersifat spekulatif belaka. Stone menyebut informasi yang beredar hanyalah sebuah pendekatan teoritis yang belum menjadi keputusan final perusahaan.

Meskipun dibantah, pasar tetap waspada mengingat pola komunikasi Meta yang sering kali melakukan langkah mengejutkan setelah munculnya rumor serupa. Para analis industri melihat bahwa tekanan investor terhadap profitabilitas perusahaan tetap tinggi di tengah belanja modal yang luar biasa. Oleh karena itu, efisiensi melalui pengurangan tenaga kerja tetap menjadi opsi yang paling masuk akal bagi manajemen Meta saat ini.