Uptodai.com - Dampak Bulan menyusut bagi manusia kini menjadi perhatian serius para ilmuwan seiring dengan rencana ambisius pendaratan astronot dalam waktu dekat. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa satelit alami Bumi ini masih aktif secara tektonik dan terus mengalami pengecilan ukuran secara perlahan. Kondisi geologis tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas permukaan Bulan bagi misi eksplorasi jangka panjang.

Para peneliti menemukan bahwa proses penyusutan ini tidak terjadi secara pasif, melainkan memicu aktivitas seismik yang kuat atau dikenal sebagai gempa Bulan (moonquakes). Fenomena ini berpotensi membahayakan infrastruktur yang akan dibangun manusia di sana. Para ahli kini mulai memetakan kembali wilayah-wilayah yang dianggap aman untuk pendaratan misi Artemis II di masa mendatang.

Penemuan Struktur Geologi Baru di Wilayah Maria

Identifikasi ribuan struktur geologi kecil yang disebut small mare ridges (SMR) menjadi bukti kuat adanya aktivitas tektonik yang masih berlangsung. Struktur ini ditemukan di wilayah maria, yaitu dataran luas dan gelap yang menyelimuti sebagian besar permukaan Bulan. Peneliti menggunakan data pencitraan resolusi tinggi untuk mendeteksi keberadaan punggungan kecil tersebut secara mendetail.

Tim ilmuwan dari Smithsonian Institution berhasil mendokumentasikan setidaknya 1.114 segmen SMR baru yang tersebar luas di sisi dekat Bulan. Temuan ini menunjukkan bahwa gaya kompresi akibat penyusutan Bulan bekerja jauh lebih masif daripada perkiraan sebelumnya. Proses pendinginan bagian dalam Bulan secara perlahan menjadi faktor utama yang menarik kerak Bulan ke arah dalam.

SMR ini tergolong sangat muda secara geologis dengan perkiraan usia antara 50 hingga 310 juta tahun. Meskipun angka tersebut terdengar sangat tua bagi manusia, dalam skala waktu geologi, usia ini menunjukkan aktivitas yang sangat baru. Hal ini membuktikan bahwa Bulan bukanlah benda langit yang mati secara geologis seperti anggapan banyak orang selama ini.

Perbedaan Tektonik Bulan dan Bumi

Mekanisme pergerakan kerak di Bulan memiliki perbedaan mendasar jika kita bandingkan dengan aktivitas tektonik di Bumi. Kerak Bumi terbagi menjadi lempeng-lempeng tektonik yang saling bergeser dan bertabrakan sehingga membentuk gunung api atau pegunungan besar. Sebaliknya, kerak Bulan tidak memiliki sistem lempeng yang terpisah-pisah namun tetap bisa mengalami retakan hebat.

Tekanan internal yang sangat kuat tetap mampu membentuk bentang alam khas akibat proses pengerutan global. Salah satu struktur yang sudah lama dikenal adalah lobate scarps, yakni punggungan yang terbentuk karena kerak Bulan terdorong ke atas. Penemuan SMR terbaru mempertegas bahwa seluruh permukaan Bulan, termasuk dataran rendahnya, sedang mengalami tekanan kompresi yang serupa.

Cole Nypaver dari Smithsonian Institution menjelaskan bahwa penelitian ini memberikan perspektif global yang lebih lengkap mengenai sejarah termal Bulan. Pemahaman tentang bagian dalam Bulan sangat krusial untuk memprediksi kapan dan di mana gempa Bulan berikutnya akan terjadi. Informasi ini menjadi aset berharga bagi badan antariksa dunia dalam menyusun protokol keselamatan astronot.

Ancaman Nyata bagi Misi Artemis II NASA

Keberadaan gempa Bulan yang dipicu oleh penyusutan ini menjadi tantangan teknis yang sangat berat bagi NASA dan mitranya. Lokasi pendaratan untuk misi Artemis II harus dipilih dengan sangat hati-hati agar tidak berada di zona patahan yang aktif. Guncangan seismik di Bulan dapat berlangsung jauh lebih lama daripada gempa di Bumi karena kondisi batuan yang kering dan kaku.

Para ilmuwan mengkhawatirkan stabilitas tanah di kutub selatan Bulan yang menjadi target utama eksplorasi manusia karena cadangan es airnya. Jika gempa Bulan terjadi saat astronot berada di permukaan, risiko longsoran material atau kerusakan pada modul pendaratan sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, katalog SMR yang baru disusun ini akan menjadi panduan navigasi yang sangat penting.

Dengan adanya data seismik yang lebih akurat, para insinyur dapat merancang bangunan atau habitat luar angkasa yang lebih tahan terhadap guncangan. Teknologi sensor gempa kemungkinan besar akan menjadi perangkat wajib yang dipasang di setiap pos pangkalan Bulan. Langkah preventif ini sangat diperlukan untuk memastikan keberlangsungan hidup manusia di lingkungan luar angkasa yang ekstrem.