Uptodai.com - Fakta pendapatan OnlyFans terungkap melalui sebuah riset mendalam yang membedah perilaku jutaan pengguna di platform konten dewasa tersebut. Meskipun sering dianggap sebagai ladang uang instan bagi siapa saja, data terbaru menunjukkan realitas yang jauh berbeda bagi sebagian besar penggunanya.

Studi yang dilakukan oleh OnlyGuider dengan dukungan data dari OnlyTraffic ini menganalisis lebih dari satu juta pengguna dengan puluhan juta transaksi. Hasilnya cukup mengejutkan karena menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi yang sangat tajam di dalam ekosistem digital tersebut.

Berdasarkan laporan dari Yahoo Finance, mayoritas pengguna platform ini ternyata enggan merogoh kocek mereka untuk menikmati konten yang tersedia. Dari total satu juta pelanggan yang diteliti, hanya sekitar 4,2 persen saja yang benar-benar melakukan transaksi pembayaran secara rutin.

Artinya, sebanyak 95,8 persen pengguna OnlyFans tidak mengeluarkan uang sepeser pun atau hanya menjadi penonton pasif di platform tersebut. Bagi mereka yang memilih untuk membayar, rata-rata pengeluaran mencapai angka US$48,52 atau sekitar Rp823 ribu per kreator yang mereka ikuti.

Dominasi Elit dan Ketimpangan Penghasilan Kreator

Fenomena “si kaya makin kaya” terlihat sangat jelas dalam struktur pendapatan para pembuat konten di platform OnlyFans. Riset tersebut mengungkapkan bahwa hanya 0,1 persen kreator teratas yang berhasil menguasai 76 persen dari total perputaran uang di sana.

Kelompok elit ini mampu meraup penghasilan rata-rata hingga US$146.881 atau setara dengan Rp2,49 miliar setiap bulannya. Sebaliknya, sisa 99,9 persen kreator lainnya harus berjuang keras memperebutkan sisa kue pendapatan yang hanya sebesar 24 persen saja.

Kondisi ini menandakan bahwa persaingan di industri konten berbayar ini sangatlah sengit dan tidak mudah bagi pendatang baru. Statistik penghasilan kreator OnlyFans ini mematahkan anggapan bahwa semua orang bisa kaya mendadak hanya dengan mengunggah konten di sana.

Peran Vital Pesan Pribadi dan Pengguna Whales

Salah satu temuan paling menarik dalam riset ini adalah sumber utama uang yang masuk ke kantong kreator. Interaksi langsung melalui fitur pesan atau chat justru menjadi mesin uang utama yang menyumbang 69,74 persen dari total pendapatan.

Sementara itu, biaya langganan bulanan yang sering menjadi promosi utama di media sosial hanya berkontribusi sekitar 4,11 persen saja. Hal ini membuktikan bahwa kedekatan personal dan komunikasi dua arah jauh lebih bernilai secara finansial dibandingkan sekadar akses konten video atau foto.

Selain itu, platform ini juga sangat bergantung pada kelompok kecil pengguna super loyal yang sering disebut sebagai “whales”. Hanya 0,01 persen pengguna yang masuk kategori ini, namun mereka mampu menyumbang hingga 20,2 persen dari total pendapatan platform secara keseluruhan.

Pola Perilaku Pengguna dan Waktu Transaksi

Perilaku belanja pengguna juga menunjukkan pola yang sangat spesifik dan cenderung impulsif di awal masa berlangganan. Sekitar 83,3 persen transaksi biasanya terjadi dalam kurun waktu 48 jam pertama setelah pengguna memutuskan untuk mulai berlangganan.

Setelah melewati masa kritis dua hari tersebut, minat belanja pengguna biasanya akan menurun secara drastis bagi kreator tersebut. Kreator juga harus jeli melihat waktu, karena akhir pekan menjadi momen paling produktif dengan kontribusi pendapatan mencapai 29,7 persen.

Meskipun OnlyFans dikenal sebagai platform berbasis interaksi, mayoritas penggunanya ternyata memiliki sifat yang cenderung pasif saat berselancar. Tercatat hanya 17,19 persen pelanggan yang aktif memulai komunikasi melalui pesan singkat kepada kreator favorit mereka secara mandiri.

Kehadiran alat bantu seperti mesin pencari inovatif OnlyGuider kini menjadi solusi bagi pengguna untuk menemukan kreator yang sesuai dengan minat mereka. Di sisi lain, platform CPA seperti OnlyTraffic membantu para kreator untuk terus mengoptimalkan jangkauan audiens mereka di tengah persaingan yang kian berat.