Uptodai.com - Pemerintah Indonesia secara resmi memastikan kepulangan sejumlah artefak bersejarah dari Belanda yang selama ini tersimpan di museum-museum Eropa. Salah satu benda yang paling menyita perhatian dalam proses repatriasi kali ini adalah Alquran milik pahlawan nasional asal Aceh, Teuku Umar.

Kepastian ini muncul setelah adanya kesepakatan antara Tim Repatriasi Kementerian Kebudayaan RI dengan Komite Koleksi Kolonial Belanda. Pertemuan tingkat tinggi tersebut berlangsung di Den Haag pada penghujung tahun 2026 yang mempertemukan para pemangku kebijakan kedua negara.

Langkah Nyata Pemulihan Keadilan Sejarah

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyambut hangat keberhasilan pemulangan benda-benda berharga tersebut ke tanah air. Menurutnya, proses ini bukan sekadar urusan logistik pemindahan barang antik dari satu negara ke negara lain.

Fadli Zon menegaskan bahwa pengembalian Alquran milik Teuku Umar dan artefak lainnya merupakan bagian dari pemulihan memori kolektif bangsa. Langkah ini dianggap sangat krusial dalam memperkuat identitas budaya nasional serta menjadi simbol rekonsiliasi sejarah antara Indonesia dan Belanda.

“Pengembalian ini adalah langkah nyata menuju martabat bangsa yang lebih kuat,” ujar Fadli Zon dalam keterangan resminya. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus melacak warisan budaya Indonesia yang masih tersebar di luar negeri.

Proses Diplomasi Kebudayaan di Den Haag

Penandatanganan kesepakatan pengembalian ini dilakukan pada 31 Maret 2026 oleh Duta Besar RI untuk Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung. Pihak Belanda diwakili oleh Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media, Youssef Louakili, dalam sebuah seremoni formal di Den Haag.

Ketiga artefak yang dipulangkan tersebut sebelumnya menjadi bagian dari koleksi Wereldmuseum Amsterdam dan Wereldmuseum Leiden. Koleksi ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi, terutama terkait dengan masa perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisme.

Selain benda cagar budaya kolonial tersebut, kerja sama ini juga membuka pintu bagi riset internasional yang lebih mendalam. Para peneliti dari kedua negara kini memiliki akses yang lebih luas untuk mempelajari asal-usul dan konteks sejarah dari setiap objek yang dikembalikan.

Melanjutkan Tren Positif Repatriasi

Keberhasilan tahun 2026 ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tren positif yang sudah terbangun sebelumnya. Pada tahun 2025, Indonesia juga sukses memulangkan fosil Manusia Jawa yang telah berada di Belanda selama lebih dari satu abad.

Pemerintah saat ini tengah mempersiapkan proses pengiriman artefak tersebut dengan standar keamanan yang sangat ketat. Rencananya, seluruh benda bersejarah ini akan diserahkan secara resmi kepada Museum Nasional Indonesia untuk dikelola dan dirawat.

Museum Nasional Indonesia nantinya akan membuka akses bagi publik agar masyarakat bisa melihat langsung bukti sejarah tersebut. Upaya ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi yang efektif bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan leluhur.

Dengan kembalinya mushaf sejarah Aceh tersebut, pemerintah berharap semangat nasionalisme masyarakat semakin berkobar. Kolaborasi internasional di bidang kebudayaan ini dipastikan akan terus berlanjut demi mengembalikan kepingan sejarah Indonesia yang sempat hilang.