Uptodai.com - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) tengah mempersiapkan langkah besar dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar logam global. Perusahaan pelat merah ini berencana membangun pabrik aluminium baru Inalum di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi fantastis mencapai US$ 2,4 miliar atau setara Rp41 triliun.

Proyek ambisius ini merupakan bagian dari strategi transformasi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan. Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, mengungkapkan bahwa fasilitas baru tersebut akan menjadi tonggak sejarah bagi industri manufaktur tanah air.

Peningkatan Kapasitas Smelter Aluminium Inalum Mempawah

Melalui pembangunan smelter kedua ini, Inalum menargetkan lonjakan kapasitas produksi yang sangat besar. Saat ini, perusahaan hanya mampu memproduksi sekitar 275.000 ton aluminium per tahun dari fasilitas yang sudah ada di Kuala Tanjung.

Kehadiran Smelter Aluminium Inalum Mempawah akan menambah kapasitas produksi sebesar 600.000 ton per tahun. Dengan demikian, total produksi tahunan Inalum nantinya bakal menyentuh angka 900.000 ton aluminium secara keseluruhan.

“Smelter 2 Mempawah adalah proyek transformasional untuk Inalum,” ujar Melati dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta. Ia menekankan bahwa penambahan kapasitas ini akan mengubah peta persaingan industri aluminium di kawasan regional secara drastis.

Skema Pendanaan dan Tantangan Hilirisasi Industri Pertambangan

Untuk merealisasikan proyek jumbo ini, Inalum telah menyiapkan struktur pendanaan yang cukup matang. Perusahaan akan menggunakan kombinasi antara pinjaman pihak ketiga sebesar 60 persen dan ekuitas internal sebesar 40 persen.

Meskipun rencana besar sudah tersusun, Inalum masih menghadapi sejumlah tantangan krusial di lapangan dalam menjalankan hilirisasi industri pertambangan. Melati mengidentifikasi bahwa isu pembebasan lahan masih menjadi perhatian utama manajemen untuk segera dituntaskan.

Selain persoalan lahan, kepastian pasokan energi jangka panjang menjadi faktor penentu keberhasilan operasional smelter tersebut. Perusahaan memerlukan energi yang stabil dan efisien untuk menjalankan fasilitas produksi berskala besar selama puluhan tahun ke depan.

Sinergi Energi demi Peningkatan Nilai Tambah Nasional

Inalum kini tengah melakukan tinjauan komersial terkait solusi penyediaan daya bersama anggota holding industri pertambangan lainnya. Kerja sama strategis ini melibatkan PT Bukit Asam (PTBA) dan MIND ID untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mandiri.

Penggunaan PLTU selama 30 tahun dianggap sebagai solusi paling rasional untuk menjaga daya saing produk aluminium di pasar internasional. Melati menegaskan bahwa dukungan penyediaan listrik secara mandiri atau captive power sangat diperlukan agar operasional tetap efisien.

Sinergi antara Inalum, PLN, dan PTBA menjadi kunci agar peningkatan nilai tambah nasional tidak terhambat oleh kendala teknis. Tanpa dukungan energi yang kuat, proses pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi akan berjalan lebih lambat dari target pemerintah.

Membangun Kemandirian Industri Logam Global

Pembangunan pabrik ini bukan sekadar mengejar angka produksi semata, melainkan bagian dari peta jalan besar menuju kekuatan industri global. Inalum berkomitmen untuk mengintegrasikan rantai pasok dari hulu hingga ke hilir secara solid dan berkelanjutan.

Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri yang mandiri dan tidak lagi bergantung pada impor bahan baku setengah jadi. Kemandirian industri aluminium akan memberikan dampak positif bagi neraca perdagangan Indonesia di masa depan.

Melalui percepatan hilirisasi, Inalum optimistis dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Proyek ini juga diproyeksikan mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal dan mendorong kemajuan infrastruktur di wilayah Kalimantan Barat.