Uptodai.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mulai menunjukkan langkah strategisnya dalam peta investasi pertambangan nasional. Rencana akuisisi saham Eramet di Weda Bay Nickel kini menjadi sorotan utama setelah pihak manajemen menyatakan keterbukaan mereka untuk masuk ke dalam proyek nikel raksasa tersebut.

Kepala Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya siap menjadi mitra lokal yang kuat bagi investor global. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kabar negosiasi yang sedang berlangsung antara Danantara dengan perusahaan tambang asal Prancis, Eramet. Rosan menekankan bahwa diskusi mengenai peluang investasi ini masih terus berjalan secara dinamis.

“Kita pada dasarnya terbuka atas diskusi kemudian pembicaraan mengenai investasi yang ada di Indonesia,” ujar Rosan saat memberikan keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan. Ia menambahkan bahwa Danantara memiliki posisi tawar yang strategis untuk memperkuat ekosistem industri di dalam negeri melalui skema kemitraan yang solid.

Langkah Strategis Danantara di Sektor Pertambangan

Berdasarkan laporan pasar, Danantara kabarnya tengah menjajaki pembelian sebagian atau seluruh 38,7 persen saham milik Eramet di PT Weda Bay Nickel. Langkah ini dinilai sebagai upaya pemerintah untuk memperbesar kendali nasional atas aset-aset tambang strategis. Meskipun negosiasi masih berada pada tahap awal, sinyal positif terus terpancar dari kedua belah pihak.

Selain pembelian saham secara langsung, Danantara juga berpotensi berpartisipasi dalam penerbitan saham baru atau right issue yang direncanakan oleh Eramet. Perusahaan asal Prancis tersebut menargetkan perolehan dana segar sekitar 500 juta Euro atau setara dengan Rp10,27 triliun pada tahun ini. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk memperbaiki struktur permodalan perusahaan.

Eramet sendiri saat ini sedang menghadapi tantangan finansial yang cukup serius di tingkat global. Perusahaan tersebut bahkan telah mengambil langkah drastis dengan menangguhkan pembayaran dividen kepada para pemegang sahamnya. Kondisi ini membuka celah bagi Danantara untuk masuk sebagai investor strategis yang membawa stabilitas jangka panjang.

Tantangan Produksi dan Kuota RKAB 2026

Di sisi lain, operasional PT Weda Bay Nickel saat ini tengah menghadapi kendala teknis terkait regulasi pemerintah. Produksi di tambang nikel tersebut terancam mengalami penghentian sementara mulai Mei 2026 mendatang. Hal ini terjadi karena kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan hampir habis lebih cepat dari perkiraan.

Pemerintah Indonesia sebelumnya melakukan pemotongan tajam hingga 71 persen terhadap kuota produksi RKAB untuk tahun 2026. Kebijakan ini berdampak langsung pada ritme kerja di lapangan dan memaksa perusahaan untuk mengatur ulang strategi operasional mereka. Penurunan kuota ini menjadi faktor krusial yang memengaruhi valuasi dan daya tarik investasi di sektor tersebut.

Meskipun menghadapi tantangan regulasi, potensi jangka panjang hilirisasi nikel Indonesia tetap menjadi magnet bagi para pengelola dana. Danantara melihat peluang ini bukan sekadar investasi finansial, melainkan langkah kedaulatan ekonomi. Kehadiran Danantara diharapkan mampu menjembatani kepentingan komersial dengan agenda besar pemerintah dalam mengoptimalkan nilai tambah sumber daya alam.

Masa Depan Kemitraan Strategis Global

Keterlibatan Danantara dalam proyek Weda Bay Nickel akan menjadi bukti nyata transformasi pengelolaan investasi di Indonesia. Sebagai sovereign wealth fund, lembaga ini memiliki mandat untuk mengelola aset negara secara lebih profesional dan menguntungkan. Sinergi dengan pemain global seperti Eramet diharapkan dapat membawa transfer teknologi dan standar operasional internasional.

Hingga saat ini, pihak Eramet masih memilih untuk tidak memberikan komentar resmi terkait detail negosiasi tersebut. Namun, para pelaku pasar meyakini bahwa kesepakatan ini akan memberikan dampak signifikan bagi industri nikel dunia. Indonesia, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar, terus berupaya memperkuat posisinya dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.

Ke depan, publik menantikan hasil konkret dari pembicaraan antara Danantara dan Eramet yang dapat mengubah peta kepemilikan tambang di Maluku Utara. Jika transaksi ini berhasil, Danantara akan mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam ekonomi nasional. Langkah ini juga menjadi sinyal bagi investor asing bahwa Indonesia siap berkolaborasi secara setara dan profesional.