Uptodai.com - Presiden Prabowo Subianto secara mengejutkan mempercepat target PLTS 100 GW yang harus terealisasi hanya dalam waktu dua tahun ke depan. Langkah berani ini diumumkan langsung di sela-sela peresmian peluncuran bahan bakar B50 di Karawang, Jawa Barat. Prabowo memberikan instruksi keras ini kepada jajaran menteri kuncinya, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Investasi Rosan Roeslani.

Sebelumnya, proyek ambisius ini diproyeksikan baru akan selesai sepenuhnya pada tahun 2029 mendatang. Namun, keberhasilan implementasi program biodiesel B50 tampaknya memicu optimisme baru di tingkat kepala negara. Untuk tahap awal, PT PLN (Persero) ditargetkan mulai membangun kapasitas sebesar 17 Gigawatt (GW) pada tahun ini.

Tantangan Pendanaan Fantastis Rp1.811 Triliun

Kementerian ESDM memperkirakan bahwa akselerasi proyek energi bersih ini membutuhkan dana yang sangat fantastis. Total anggaran yang diperlukan diproyeksikan menembus angka 100 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.811 triliun. Angka yang luar biasa besar ini tentu tidak bisa hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Oleh karena itu, pemerintah akan mengandalkan skema produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP). Keterlibatan aktif dari investor internasional dan korporasi swasta domestik menjadi kunci utama kesuksesan proyek ini. Pemerintah kini tengah menyelaraskan seluruh rencana kelistrikan nasional agar ramah bagi masuknya modal asing.

Peran Strategis Danantara dan Sektor Swasta

Keterlibatan Rosan Roeslani selaku CEO Danantara diharapkan mampu mempercepat arus masuk investasi hijau global ke Indonesia. Danantara, sebagai super holding investasi baru, memiliki posisi tawar yang kuat untuk menarik minat lembaga donor internasional. Sinergi antara kebijakan regulasi ESDM dan kemudahan investasi dari Danantara akan diuji dalam megaproyek ini.

Kesiapan Infrastruktur Grid dan TKDN

Di sisi lain, para pengamat mengingatkan adanya tantangan teknis berupa kesiapan jaringan transmisi (grid) milik PLN. Mengintegrasikan listrik dari tenaga surya yang bersifat intermiten membutuhkan teknologi smart grid yang canggih. Selain itu, pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk panel surya juga harus diselesaikan agar industri lokal ikut bertumbuh.

Langkah cepat menuju swasembada energi ini diharapkan dapat mempercepat target Net Zero Emission (NZE) Indonesia sebelum tahun 2060. Meski banyak pakar meragukan tenggat waktu dua tahun ini, Prabowo optimistis Indonesia mampu memimpin transisi energi global. Kini, bola panas berada di tangan para menteri untuk membuktikan bahwa target tersebut bukan sekadar mimpi.