Uptodai.com - Pola kata sandi yang bocor saat ini menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan bagi para pengguna layanan digital di seluruh dunia. Sebuah riset terbaru dari perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kebiasaan masyarakat dalam menyusun kode pengaman akun mereka. Para ahli menemukan bahwa mayoritas pengguna masih menggunakan kombinasi yang sangat mudah ditebak oleh sistem peretas otomatis.

Analisis mendalam terhadap 231 juta data unik yang bocor antara tahun 2023 hingga 2026 menunjukkan adanya pola yang sangat seragam. Lebih dari separuh pengguna ternyata masih mengandalkan kombinasi angka sederhana untuk melengkapi kata sandi mereka. Hal ini menjadi celah besar bagi para pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan secara masif dan efisien.

Dominasi Angka dalam Kebocoran Data Global

Data riset tersebut menunjukkan bahwa sekitar 53 persen pola kata sandi yang bocor memiliki akhiran angka pada rangkaian karakternya. Sementara itu, sekitar 17 persen pengguna lainnya justru memilih untuk menempatkan angka pada bagian awal kata sandi mereka. Pola-pola sederhana seperti ini sangat rentan terhadap serangan brute force yang kini semakin canggih.

Peretas juga sangat mudah membedah sandi yang menggunakan rangkaian angka menyerupai tanggal lahir atau tahun-tahun penting. Hampir 12 persen dari data yang bocor menggunakan format tahun antara 1950 hingga 2030 sebagai bagian dari pengaman akun. Penggunaan tahun yang relevan dengan masa hidup pengguna justru mempermudah algoritma peretas dalam memetakan kemungkinan kombinasi.

Kecepatan Peretasan Berbasis Kecerdasan Buatan

Teknologi kecerdasan buatan atau AI kini membuat proses pembobolan akun menjadi jauh lebih cepat bagi para penjahat siber. Riset Kaspersky menemukan bahwa sekitar 68 persen kata sandi modern dapat mereka retas hanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Padahal, banyak layanan digital sudah mewajibkan penggunaan minimal 10 karakter dengan kombinasi huruf kapital dan simbol.

Hasil analisis ini membuktikan bahwa sekadar mengikuti aturan dasar keamanan digital ternyata belum cukup untuk menjamin keamanan akun. Para peretas kini memiliki basis data pola perilaku manusia yang sangat luas untuk melatih model AI mereka. Hal ini memungkinkan sistem otomatis menebak variasi kata sandi yang paling umum digunakan oleh masyarakat luas dengan tingkat akurasi tinggi.

Simbol dan Pola Keyboard yang Mudah Ditebak

Penggunaan simbol khusus ternyata tidak serta merta membuat sebuah akun menjadi aman jika polanya terlalu umum. Simbol “@” menjadi pilihan yang paling populer dan muncul pada sekitar 10 persen kasus kebocoran data. Selain itu, tanda titik juga sering menjadi pilihan pengguna dengan persentase kemunculan mencapai 3 persen dalam daftar sandi yang bocor.

Selain simbol, banyak orang masih terjebak menggunakan pola urutan tombol keyboard yang sangat klasik. Pola seperti “qwerty”, “ytrewq”, atau kombinasi angka berurutan “1234” masih menyumbang sekitar 3 persen dari total kasus. Kebiasaan malas ini membuat proteksi data pribadi digital menjadi sangat lemah di hadapan perangkat lunak peretas yang bekerja secara otomatis.

Tren Kata Viral dan Unsur Emosional

Menariknya, banyak pengguna gemar menyisipkan kata-kata yang sedang viral atau memiliki nuansa emosional tertentu sebagai dasar kata sandi. Salah satu contoh yang cukup mencolok dalam data terbaru adalah penggunaan kata “Skibidi” yang merepresentasikan tren budaya internet saat ini. Penggunaan istilah populer justru memberikan petunjuk tambahan bagi peretas untuk mempersempit ruang pencarian kombinasi.

Alexey Antonov, Data Science Team Lead di Kaspersky, menjelaskan bahwa pola-pola umum ini justru mempermudah serangan siber. Menurutnya, penggunaan simbol, angka, maupun tanggal yang terlalu umum membuat sistem otomatis milik peretas bekerja lebih cepat. Ia menyarankan pengguna untuk benar-benar menciptakan kombinasi yang unik dan tidak mengikuti arus tren kata-kata populer.

Langkah Proteksi Akun dari Serangan Peretas

Melihat tingginya risiko keamanan akun dari peretas, para ahli menekankan pentingnya penggunaan pengelola kata sandi atau password manager. Alat ini dapat membantu pengguna menciptakan rangkaian karakter yang benar-benar acak dan sulit ditebak oleh AI. Selain itu, hindari penggunaan informasi pribadi seperti tanggal lahir atau nama anggota keluarga dalam kata sandi Anda.

Mengaktifkan fitur otentikasi dua faktor (2FA) juga menjadi langkah wajib untuk memberikan lapisan keamanan tambahan. Dengan 2FA, peretas tetap tidak akan bisa masuk ke akun meskipun mereka telah berhasil mengetahui kata sandi Anda. Kesadaran akan pentingnya variasi karakter yang tidak berpola menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan digital di era modern ini.