Uptodai.com - Sebuah studi terbaru mengungkapkan kriteria pekerja paling rentan derita obesitas akibat tuntutan profesional yang berlebihan. Penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang menghabiskan waktu lebih lama di tempat kerja memiliki risiko kenaikan berat badan yang jauh lebih tinggi. Kurangnya waktu luang membuat mereka kesulitan untuk berolahraga, beristirahat dengan cukup, serta menyiapkan asupan makanan yang bergizi seimbang.

Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan camilan tinggi kalori demi menghemat waktu di sela kesibukan. Pola hidup sedentari atau minim aktivitas fisik akhirnya menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan bagi para pekerja sibuk. Akibatnya, penumpukan lemak tubuh terjadi lebih cepat dan memicu berbagai masalah kesehatan metabolik lainnya.

Dampak Duduk Terlalu Lama dan Stres Kerja

Duduk di belakang meja selama berjam-jam secara ilmiah terbukti memperlambat sistem metabolisme tubuh manusia. Ketika tubuh tidak aktif bergerak, kemampuan untuk memecah lemak dan menyerap gula darah akan menurun drastis. Selain itu, tekanan pekerjaan yang tinggi memicu pelepasan hormon kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan secara signifikan, sehingga pekerja cenderung melakukan emotional eating.

Dr. Pradeepa Korale-Gedara dari Universitas Queensland menjelaskan bahwa keseimbangan hidup sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik. Ketika seseorang memiliki jam kerja yang lebih fleksibel, tingkat stres mereka akan menurun secara drastis. Hal ini memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada pilihan makanan sehat dan aktif berolahraga.

Analisis Data Global dan Solusi Perusahaan

Studi yang dipresentasikan pada Kongres Obesitas Eropa (ECO 2026) di Istanbul ini menganalisis data dari 33 negara OECD. Hasilnya menunjukkan negara dengan jam kerja panjang seperti AS dan Meksiko memiliki tingkat obesitas yang sangat tinggi. Menariknya, pengurangan jam kerja sebesar 1 persen saja berkorelasi dengan penurunan angka obesitas sebesar 0,16 persen.

Untuk mengatasi fenomena ini, banyak perusahaan global kini mulai menerapkan program kesejahteraan karyawan yang lebih proaktif dan komprehensif. Penyediaan fasilitas meja berdiri (standing desk), ruang kebugaran di kantor, hingga subsidi katering sehat menjadi langkah preventif yang kian populer. Investasi pada kesehatan fisik karyawan ini terbukti tidak hanya menekan risiko obesitas, tetapi juga meningkatkan produktivitas kerja secara keseluruhan.

Meskipun demikian, tingkat pendapatan suatu negara juga memegang peranan penting dalam menentukan status kesehatan masyarakatnya. Peningkatan pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita sebesar 1 persen dikaitkan dengan penurunan angka obesitas sebesar 0,112 persen. Di sisi lain, negara seperti Inggris masih berjuang keras dengan tingkat obesitas yang mencapai 26,8 persen.