Uptodai.com - Pemerintah melalui Kementerian ESDM resmi menetapkan aturan baru yang wajib campur bensin dengan etanol sebesar 5 persen mulai semester II tahun 2026. Kebijakan strategis ini tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 mengenai pemanfaatan bahan bakar nabati. Langkah ini diharapkan mampu menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang kian menipis.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa aturan ini wajib dipatuhi oleh seluruh badan usaha penyedia BBM. Pada tahap awal, implementasi kebijakan ini hanya akan menyasar jenis bahan bakar non-subsidi atau non-PSO. Wilayah Pulau Jawa dipilih sebagai lokasi perdana untuk penerapan penuh program ramah lingkungan tersebut.

Pemanfaatan Infrastruktur Pertamina dan Sukses Pertamax Green

Untuk mendukung kelancaran distribusi, pemerintah akan memaksimalkan infrastruktur dan gerai milik PT Pertamina (Persero). Pertamina dinilai siap karena sebelumnya telah sukses menguji coba produk Pertamax Green 95 sejak tahun 2023. Melalui keputusan menteri yang akan segera terbit, jumlah outlet penyedia bioetanol ini dipastikan bakal terus bertambah secara signifikan.

Pasokan bioetanol untuk program ini akan disokong oleh beberapa produsen lokal yang memiliki kapasitas produksi tinggi. PT Energi Agro Nusantara (Enero) menjadi salah satu pemasok utama yang siap mendistribusikan bahan bakar nabati tersebut. Selain itu, terdapat tiga pabrik baru bersertifikasi fuel grade ethanol dengan kadar kemurnian di atas 99 persen yang siap beroperasi.

Ketiga pabrik tersebut adalah PT Indonesia Ethanol Industry di Lampung, PT Enero, serta PT Molindo Raya Industrial di Jawa Timur. Total kapasitas produksi dari ketiga fasilitas ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan mandatori nasional secara bertahap. Langkah penguatan industri hulu ini krusial agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor bahan baku energi dari luar negeri.

Komitmen Net Zero Emission dan Pengurangan Emisi Karbon

Penerapan bioetanol ini sejalan dengan komitmen global Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Pencampuran etanol berbasis tebu atau singkong terbukti efektif menurunkan kadar emisi gas buang kendaraan secara drastis. Selain ramah lingkungan, bahan bakar nabati ini juga membantu menjaga performa mesin tetap optimal dan bersih dari kerak karbon.

Meski demikian, tantangan terbesar ke depan adalah konsistensi pasokan bahan baku pertanian untuk produksi etanol skala besar. Pemerintah perlu bersinergi dengan sektor pertanian guna memastikan ketersediaan lahan tebu dan singkong tetap terjaga. Jika rantai pasok ini berhasil diamankan, transisi energi bersih di Indonesia diproyeksikan akan berjalan jauh lebih cepat dan mandiri.