Bahlil: Mobil Hidrogen Siap Saingi Mobil Listrik dalam 10 Tahun
Uptodai.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meyakini bahwa Mobil Hidrogen Saingi Mobil Listrik berbasis baterai secara ketat dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan saat pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta. Menurutnya, percepatan inovasi teknologi akan membuat kendaraan masa depan tidak lagi didominasi oleh satu jenis sumber energi saja.
Bahlil menjelaskan bahwa potensi Indonesia dalam mengadopsi teknologi hidrogen hijau sangat besar berkat limpahan energi baru dan terbarukan (EBT). Pemerintah sendiri tengah menyiapkan proyek energi skala besar, termasuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW). Pasokan listrik bersih dari PLTS ini nantinya dialokasikan untuk menjalankan proses elektrolisis air guna memproduksi hidrogen murni yang bebas emisi.
Penggunaan energi terbarukan untuk menghasilkan bahan bakar hidrogen dinilai memberikan efisiensi ganda bagi target dekarbonisasi nasional. Bahlil menyebutkan bahwa integrasi antara energi bersih dan bahan bakar ramah lingkungan akan menciptakan ekosistem transportasi yang serba bersih. Langkah ini menjadi krusial untuk menekan jejak karbon sektor transportasi darat di tanah air.
Peta Persaingan Global: Jepang vs China
Dalam konstelasi industri otomotif global, perdebatan antara efisiensi mobil hidrogen dan kendaraan listrik berbasis baterai telah berlangsung lama. Bahlil menyoroti dua negara Asia yang memimpin arah pengembangan teknologi ini dengan pendekatan berbeda. Jepang secara konsisten memelopori teknologi Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV), sementara China sangat mendominasi pasar kendaraan listrik baterai.
Dominasi China pada ekosistem mobil listrik didorong oleh investasi masif di rantai pasok baterai lithium serta manufaktur berskala besar. Di sisi lain, Jepang berfokus pada daya jangkau yang lebih jauh dan waktu pengisian bahan bakar hidrogen yang jauh lebih singkat. Kendati demikian, Indonesia menegaskan tidak akan memihak pada satu teknologi saja, melainkan mengambil kebijakan berdasarkan kepentingan nasional.
Tantangan dan Masa Depan Hidrogen di Indonesia
Meskipun teknologi hidrogen menawarkan proses pengisian daya secepat mengisi bensin konvensional, tantangan utama terletak pada infrastruktur stasiun pengisian. Biaya pembangunan stasiun pengisian hidrogen saat ini masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan stasiun pengisian kendaraan listrik umum. Selain itu, efisiensi rantai distribusi hidrogen murni memerlukan teknologi penyimpanan bertekanan tinggi yang aman.
Di masa transisi energi ini, pemerintah terus membuka peluang kerja sama investasi untuk membangun rantai pasok hidrogen domestik. Kombinasi antara pengembangan mobil listrik dan kendaraan berbahan bakar hidrogen diharapkan dapat mempercepat pencapaian target emisi nol bersih Indonesia pada tahun 2060. Diversifikasi teknologi ini juga akan memberikan lebih banyak pilihan transportasi ramah lingkungan bagi masyarakat.