Piala Dunia 2026 Sepi Penonton? Ini Penyebab Utamanya
Uptodai.com - Banyak pengamat memprediksi bahwa gelaran Piala Dunia 2026 sepi penonton akibat ketatnya regulasi keimigrasian di negara tuan rumah. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang telah bersiap menyelenggarakan turnamen sepak bola terbesar ini mulai Juni 2026. Namun, sebagian besar pertandingan krusial akan digelar di AS, yang dikenal memiliki kebijakan visa sangat ketat bagi warga negara berkembang. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa stadion tidak akan dipenuhi oleh suporter internasional seperti edisi sebelumnya.
Meskipun FIFA telah meluncurkan sistem prioritas bernama FIFA PASS untuk mempercepat wawancara, jaminan persetujuan visa tetap tidak ada. Biaya pengajuan visa AS yang berkisar antara Rp3,3 juta hingga Rp7,8 juta juga dinilai sangat memberatkan bagi suporter dari negara berkembang. Angka tersebut bahkan belum termasuk biaya tiket pesawat, akomodasi, dan biaya hidup yang melonjak tinggi selama turnamen berlangsung. Kegagalan ratusan suporter asal Ghana baru-baru ini menjadi bukti nyata betapa sulitnya menembus birokrasi AS.
Perbandingan dengan Kemudahan Akses Qatar 2022
Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 di Qatar yang lalu. Saat itu, pemerintah Qatar memberlakukan sistem Hayya Card yang berfungsi sebagai visa masuk instan bagi pemegang tiket pertandingan. Kemudahan akses tersebut berhasil menarik jutaan suporter dari berbagai belahan dunia tanpa kendala birokrasi yang berarti. Sebaliknya, pendekatan kaku Amerika Serikat kali ini dinilai dapat mencederai semangat inklusivitas sepak bola global.
Hambatan Geopolitik dan Konflik Global
Selain masalah administratif, ketegangan geopolitik juga menjadi tembok besar bagi para penggemar sepak bola di wilayah konflik. Suporter asal Iran, misalnya, menghadapi situasi yang hampir mustahil untuk bisa mendukung tim nasional mereka secara langsung di AS. Tanpa adanya hubungan diplomatik resmi, mereka harus menempuh rute penerbangan transit yang sangat panjang dan mahal. Risiko keamanan sekembalinya mereka ke tanah air juga menjadi ancaman nyata yang menakutkan.
Dampak Ekonomi bagi Kota Penyelenggara
Kekosongan tribun penonton berpotensi menurunkan pendapatan sektor pariwisata lokal di kota-kota penyelenggara turnamen. Hotel, restoran, dan transportasi publik yang awalnya diproyeksikan meraup untung besar kini harus bersiap menghadapi penurunan okupansi. Jika FIFA dan pemerintah AS tidak segera menemukan solusi diplomatis, pesta sepak bola ini terancam kehilangan atmosfer kemeriahannya. Kehadiran penonton lokal saja dianggap tidak cukup untuk menggantikan gairah suporter fanatik dari berbagai negara peserta.