Uptodai.com - Masyarakat dihebohkan dengan kemunculan fenomena Bromo bersalju yang terjadi di tengah puncak musim kemarau basah tahun ini. Lapisan kristal es berwarna putih bersih tampak menyelimuti kawasan lautan pasir dan dedaunan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Pemandangan langka yang menyerupai musim dingin di luar negeri ini langsung viral dan memicu antusiasme luar biasa dari para wisatawan.

Fenomena unik yang dikenal masyarakat lokal sebagai embun upas ini sebenarnya merupakan kristal es yang terbentuk akibat penurunan suhu ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena ini lumrah terjadi saat wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau. Meskipun Indonesia beriklim tropis, karakteristik wilayah dataran tinggi seperti Bromo memang sangat rentan mengalami penurunan suhu drastis hingga mendekati nol derajat Celsius.

Penyebab Ilmiah di Balik Embun Upas Bromo

Menurut Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardhani, ada beberapa faktor meteorologis yang menjadi penyebab embun beku Bromo ini bisa terbentuk. Salah satu pemicu utamanya adalah kondisi langit yang sangat cerah tanpa tutupan awan pada malam hari. Tanpa adanya awan yang berfungsi sebagai selimut bumi, radiasi panas yang diserap pada siang hari akan terlepas kembali ke atmosfer dengan sangat cepat.

Selain faktor langit cerah, pergerakan angin Monsun Australia juga memegang peranan penting dalam menurunkan suhu di kawasan pegunungan Jawa Timur. Aliran massa udara yang bersifat kering dan dingin dari benua kangguru tersebut berembus kuat melewati wilayah Indonesia. Kombinasi antara kelembapan udara yang sangat rendah dan tiupan angin dingin ini mempercepat proses pembekuan embun menjadi kristal es di permukaan tanah.

Dampak Terhadap Pariwisata dan Pertanian Lokal

Kehadiran “salju” musiman ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi sektor pariwisata yang mendongkrak kunjungan turis domestik maupun mancanegara. Banyak pelancong sengaja datang sejak dini hari demi menyaksikan hamparan pasir yang memutih bagaikan berada di Eropa. Fenomena ini memberikan dampak ekonomi positif bagi para penyedia jasa jip, pemandu wisata, hingga penginapan di sekitar lereng Gunung Bromo.

Namun, di balik keindahannya, embun upas juga membawa tantangan tersendiri bagi para petani suku Tengger yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Embun beku ini dapat merusak komoditas sayuran seperti kentang, kubis, dan bawang karena membuat sel-sel tanaman membeku lalu membusuk. Oleh karena itu, masyarakat lokal sering kali harus melakukan antisipasi ekstra untuk melindungi lahan pertanian mereka dari kerusakan akibat suhu dingin ekstrem ini.

Tips Bagi Wisatawan yang Ingin Berkunjung

Bagi Anda yang tertarik untuk menyaksikan fenomena alam yang menakjubkan ini secara langsung, persiapan fisik yang matang sangatlah dibutuhkan. Pastikan Anda mengenakan pakaian hangat berlapis, jaket tebal penahan angin, sarung tangan, serta penutup kepala yang memadai. Suhu di sekitar kaldera Bromo saat dini hari bisa turun drastis hingga di bawah 5 derajat Celsius, sehingga kewaspadaan terhadap hipotermia harus tetap diutamakan.